Kamis, 06 Maret 2025

Melayani Konsultasi Mahasiswa

 Inisial MIZ, mahasiswa asal P, Kota TS, Provinsi B. Ada dua kasus; 

1) Sering membayangkan masa lalu yaitu berandai-andai jika saja dulu tidak melakukan ini, atau sebaliknya, jika saja dulu melakukan ini. Saat ini MIZ berada dalam kondisi antara enjoy dan tidak kuliah di Ekis, karena dirinya merasa minat bakatnya di desain visual (digital art) dimana dia sering menang lomba dan punya banyak portofolio. Tapi karena ortu (papa mamanya) nyuruh kuliah yg ada bisnis dan islamnya, maka pilihan satu-satunya adalah Ekis Unair. Dia membayangkan bisa kuliah di psikologi atau Ilmu komputer (seperti kakak kandungnya yg sudah lulus dan langsung kerja dgn gaji besar). MIZ berandai jika saja dulu bisa meyakinkan ortunya utk kuliah desain.

2) Tidak bisa lepas dari role model yang sempurna dalam hidupnya, yaitu a. kakak tingkatnya di SMA, b. kakak kandungnya, dan c. papanya. MIZ menganggap 3 orang ini adalah contoh sempurna orang sukses,, da MIZ tidak yakin apakah dia bisa menjadi sesukses ketiganya. MIZ tidak yakin apakah bisa menjadi diri sendiri yang totally berbeda dari ketiganya. Dia ingin melepas bayang-bayang 3 orang ini, namun selalu terbawa pikiran utk tetap meniru ketiganya, namun tidak bisa (ini yg membuatnya tambah jengkel), baik pola hidup, perencanaan, cara belajar, dsb. 

Penanganannya adalah sebagai berikut:

Untuk masalah pertama, saya memberikan tips bahwa penyesalan terhadap masa lalu (membayangkan andai jalan hidup berbeda) adalah dengan cara mensyukuri apapun kondisi hari ini, menganggapnya sebagai anugerah (karunia Tuhan) yg mungkin tidak dimiliki orang lain (dan orang lain menginginkannya). MIZ harus bisa melihat hari ini sebagai kebaikan, sehingga apapun jalan di masa lalu yg menuju kepada hari ini harus dianggap sebagai skenario Tuhan, baik masa lalu itu mengenakkan, atau masa lalu yg menyakitkan. Misalnya, bersyukur bahwa kuliah di Ekis FEB, dimana dosennya enak, mahasiswanya kalem baik, dan suasana kampus Unair sangat nyaman, lalu bayangkan sebaliknya, andai saja kuliah di prodi dan kampus lain, maka bisa jadi kondisinya terbalik, yaitu serba tidak nyaman. Jadi tipsnya adalah mengubah 180 derajat, dari membenci hari ini menjadi bersyukur atas hari ini. Dari mengutuk masa lalu menjadi bersyukur atas tahapan masa lalu. Caranya adalah dengan mengarifi takdir, berdamai dengan masa lalu, optimis terhadap masa depan.

Untuk masalah kedua, saya memberikan tips agar memperluas perspektif. Mencari tokoh lain yg sama suksesnya (kateori dan indikatornya, misal jabatan, harta, dll) namun dengan cara yg berbeda. Misal, dosen A, Prof B, jadikan role model baru, kalau perlu, cari sebanyak mungkin, sehingga MIZ memiliki banyak referensi jalan dan proses sukses, tidak hanya terpaku pada 3 orang tadi. Dengan semakin banyak mengetahui kisah sukses orang lain, MIZ akan punya panutan baru, yg bisa jadi berbeda jauh dari 3 orang sebelumnya. Saya memberikan banyak contoh baik artis, dosen maupun tokoh nasional yg mana jalan suksesnya berbeda, baik cara mencapainya, kecepatan pencapaian, ataupun tingkat kesulitan yg dialami. Dengan memperluas wawasan, maka hantu kungkungan tokoh tertentu akan tertepis. 

Tingkat kesuksesan:

Saat saya minta MIZ untuk lebih optimis menjalani kuliah, MIZ bilang akan mencoba. Saya minta untuk lebih ceria dan terbuka terhadap peluang, misal terbuka pada tawaran aktif di organisasi (saat ini MIZ aktif di BEM dan UKM lain), dari anggota biasa menjadi pengurus. Dengan aktif, maka akan banyak teman, dari banyak teman jadi banyak perspektif. Saya minta untuk senyum, MIZ tersenyum walau tidak penuh. Saya tawarkan untuk konseling beberapa kali, dia bersedia. Bahkan siap ikut kelas saya untuk matakuliah yg sama yg sedang dia ambil dengan dosen lain (untuk menambah pendalaman jika waktunya tidak bentrok)

Sabtu, 01 Maret 2025

DISIPLIN

 Jadwal, rutinitas dan hal disiplin adalah sebuah upaya untuk menjadikan hidup kita bermakna dari waktu ke waktu. Tanpa jadwal, rutinitas dan disiplin maka hari-hari kita akan berjalan di luar rencana. Dengan jadwal, rencana dan tujuan, maka hidup akan berjalan di atas koridor makna dan prestasi. 

Kamis, 09 September 2021

ELO 19



Kls 1 SMA sy duduk d baris plg blkg, brsama Hervin. Di dpn sy Chairul (Elo, org d foto ini) dan alm Sanimo. Kls 2 sy sebangku dg Elo, di paling blkg, pojok utara kanan kls. Prnah Pak Totok memindah siswa yg d blkg, tp kami b2 aman, krn kami ga rame. Hari pertama masuk kls 2 sy dtg terlambat, dan tiba2 satu kursi kosong sdh disiapkn oleh Elo utk sy.

Dulu 1998 ramai dg stiker Dewa 19. Elo minta tasnya digambar dg tulisan ELO 19, pake tipe-X. Krn tulisan sy bagus katanya.
Elo adl 1 diantara tmn ks 1.1 (dan 2.1) yg plg tau tujuan hidupnya. Ia, bersama Rizki, mmg hanya mencita2kan 1 hal: mjd polisi atau brimob. Kakak dan adik Elo semuanya polisi. Org spti sy tdk tau mau jd apa kelak, yg pnting kuliah.
Sjk 1998 sy dan Elo sdh tdk sekelas. Ia IPS, sy IPA. Akibatnya ia mencap sy sbg pgkhianat, krn dlm prgaulan sehari2 sy mmg berkhidmat utk ikut mrk di IPS. Pd hari pengumuman, guru memasukkan sy k IPA, dan sy diam2 senang. Mk sy terdepak dr pergaulan mrk 😃
Kalo skrg ad istilah bully, mgkn sy trmasuk korban bully terparah. Pelakunya ya Elo. Macam2 aksinya (gak usah diceritain). Tp sy bbrp kali juga ngerjai dia. Slh 1nya adl nulisi LKSnya dg tulisan gaya Pak Saleh (ekonomi, yg dikenal ga suka bercanda). Sy tulis "Belajar lbh rajin ya. Jgn nyontek sj". Membaca tulisan itu Elo pucat, smntara sy senyum sndiri.
Kalo olahraga sy biasa mandi d rmh dia. Sy sering pinjam kaset tape nya. Lagu2 barat biasanya. Diantara semua MP, dia paling jago d bhs inggris. Ketika ad tugas dr Bu Peni utk mmbuat cerita lucu dan membacakannya di kelas, mk kami bagi tugas. Sy yg buat cerita, Elo yg menginggriskan, dan dia pula yg baca d dpn. Ceritanya adl katak hendak jd lembu. Entah krn kualitas english yg buruk, atau cara bercerita Elo yg datar (bhkn horor), siang itu sekelas ga ad yg ketawa samasekali 😃 Sebaliknya, klo ad yg presentasi d dpn, kami ngakak, dan teriak kalo mrk "lucu banget". Tp ngakak kami palsu 😉
Saat pulang k kampung, sy sering ktmu Elo saat patroli. Dulu dia ga bisa motoran, skrg dia sdh bawa mitsubishi lancer hiu polisi.
Elo trmasuk yg awal2 nikah. Anaknya skrg kls 3 SMA. Ia minta saran pd sy utk kuliah anaknya. Sy sarankan jd polwan sj biar kyk ayahnya 😃

Pamekasan, 27 Mei 2021

JAYADI HATI

 oleh: Abdus Salim

Ada kawan yg bercerita bhw kawan sy yg lainnya mau brkt menimba ilmu ke USA, biasanya dia selalu berkabar jika akan menunaikan tugas mulianya......, seperti halnya bberapa tahun lalu saat pertama mau merantau ke Jakarta naik sepur (kereta), ia tak lupa mampir ke rumah bersilaturrahim dan memberitahu bhw utk bbrapa wkt akan bekerja disana. Tp mgkn saja kali ini ia lupa dan makin sibuk aja, tp tak apalah.....justru sy turut bangga. Kerendahan hatinya memang selalu membawanya mjd cah BEJO. Ke-ULET-annya memang mendatangkan kekuatan bg dia utk berproses di segala macam medan, menjelajahi wilayah dipelosok tanah air. Dan yg paling mengesankan tentu ke-LEGOWO-annya saat hrs mengalah memberi tempat dan kesempatan bagi kawan lainnya yg -maaf- memiliki keterbatasan fisik agar lbh dulu difasilitasi/diangkat menjadi DOSEN disebuah PTN, meski ia sendiri kapasitasnya sangat layak dipertimbangkan. Hingga pd akhirnya ia mdpt ganti tempat yg tentu jauh lbh menjanjikan dr ekspektasi sebelumnya, tentulah utk pengembangan dirinya ke depan. Saya cermati ia sejak awal dibangku kuliah maupun beraktivitas di organisasi, ia memupuk karakter positifnya dg sikap selalu mengalah pada teman dan sahabatnya......dan ternyata inilah kekuatannya, semakin byk ia "mengalah" makin JAYADI HATI teman dan sahabat2nya......goodluck, Jelajahilah dunia, kawan....!

Malang, 29 Mei 2015

LAPAR dan SAMPAR

 


"Ketika kami sdh berlayar ke tengah fjord, aku berdiri tegak, basah keringat, demam dan letih, menatap ke daratan, dan mengucapkan selamat tinggal kali ini ke Kristiania, kota dimana kaca-kaca jendela bersinar begitu cerah dari semua rumahnya." (Hamsun, 1890)
Menamatkan novel Lapar karya Knut Hamsun di masa pandemi itu luar biasa. Plot dan interaksi tokohnya yg minimal (gitu-gitu aja bolak-balik dari kos-taman-gadai-redaksi-jalan), dgn orang-orang itu aja (redaktur, ibukos, tukang gadai, penjual kue, polisi, gadis), juga setting Kristiania (Oslo) di masa lampau yg blm ada listrik atau kendaraan mesin, serta terjemahan dg tatabahasa lama yg kurang flowing buat sy, benar-benar membuat bosan jika ekspektasi kita adl konflik atau kalimat-kalimat puitis ala novelis bla bla bla.
Tapi Hamsun adl sastrawan terbesar Norwegia. Karyanya sgt layak dibaca. Ia peraih nobel sastra 1920. Sy tahu novel ini dari guru sy, Gus Fathur. Jk boleh membandingkan, novel ini mmg benar mengilhami novel puluhan tahun berikut berikutnya, yaitu Catcher in the Rye (1951) karya J.D. Salinger, dg gaya yg sama. Dialog batin yg dibangun serta "pencarian" sang tokoh utama, mirip. Endingnya sama-sama absurd. Tidak ad kisah sukses terjadi spti yg biasa diharap pembaca.
Tp novel spti Hamsun dan Salinger inilah yg justru menggerakkan pembaca sampai pd aktivitas ekstrim, sprti diceritakan salah satu pembacanya saat di penjara, David Chapman, yg mengaku menembak John Lennon pd 1980 krn terilhami oleh novel Salinger yg bercerita ttg pencarian eksistensi Holden Caulfield tsb.
Next: Sampar by Albert Camus Pamekasan, 7 Agustus 2021

DENI YASMARA: AGENT 001




Saya mengenal Deni pada tahun 2015 di acara kampus, dan menjadi akrab dengannya ketika kami sama-sama sebagai Tim Pendamping Kegiatan Kemahasiswaan (TPKK) Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa), Universitas Airlangga (Unair). Saya utusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menggantikan Bu Widya, Deni utusan Fakultas Keperatawan (FKP). Deni ada di Dirmawa lebih dulu dari saya, sehingga saya banyak berguru padanya perihal kemahasiswaan.

TPKK menghandle hampir semua kegiatan mahasiswa universitas di luar akademik, mulai dari ospek (PPKMB), diklat kepemimpinan (LKMM), pembinaan ormawa (BEM dan UKM), LKTI (PKM, KBMI dan olimpiade), beasiswa sampai wisuda. Tiap TPKK memiliki fungsi sendiri. Saya misalnya pernah di kewirausahaan (KWU) dan beasiswa. Deni pernah di bidang prestatif dan ormawa. Namun kami semua hampir pasti terlibat dalam acara PKKMB, LKMM, PKM dan wisuda. Di tiap kegiatan Dirmawa, Deni selalu sbg paramedis, pemegang sah tas ransel obat P3K.
*
Agen 'Langley'
Kami semua ber-14, sesuai jumlah fakultas di Unair, plus PSDKU Banyuwangi. Deni memiliki sebutan khusus untuk para TPKK, yaitu agen. "Karena tugas TPKK yang multitasking, maka TPKK harus seperti agen CIA yang bisa semua hal, mulai penyamaran, perang, menulis laporan, negosiasi, mengkader, aksi balapan dll", candanya. Deni sering menyebut Dirmawa sebagai pentagon, sebuah ruangan di sudut tenggara rektorat lantai dasar.
Sebutan tersebut terilhami oleh film Bourne dimana Jason menjadi agen paling dicari, bahkan oleh CIA sendiri. Saking terobesinya pada film tersebut, Deni memberi nama beberapa kolega kami sesuai tokoh dalam sekuel Bourne, namun ini hanya diketahui oleh kami berdua. Sy sering sebut dia sbg Jason.
Setiap kali saya ikut mobil Deni, dia selalu seolah-olah sedang mengendarai Aston-Martin James Bond. Dengan kocak ia akan meminta saya untuk mengencangkan sabuk pengaman karena mobil akan melaju dengan kecepatan di atas 100 km/h karena BBM nya avtur. Atau ia akan menyebut bahwa fitur di mobil sudah digital otomatis dan beberapa device dipasang untuk keperluan keagenan.
*
Yovie & Tulus
Deni tergila-gila pada lagu pop manis ciptaan Yovie Widiyanto, baik yang dibawakan oleh Yovie N Nuno maupun oleh Kahitna. Untuk penyanyi baru, ia penyuka Tulus. Deni akan sangat komplit bercerita figur Tulus atau Raisa yang konser di kampus asal dgn tajuk coming home.
Setiap kami berkesempatan satu kamar di kegiatan LKMM, Deni selalu memenuhi kamar dengan lagu pop atau mensetting TV pd chanel lagu. Ia menafsirkan bait-bait, atau bercerita tentang video klip. Suaranya memang enak. Pas untuk lagu pop dan jazz.
*
Jokes dan Film
Di luar tampilannya yang casual, ternyata paling suka bercanda dan cerita humor. Yang paling sering dikutip adalah jokes dari Warkop DKI. Baginya Dono Kasino Indro adalah kampiun lawak. "Dengan satu kata saja, penonton bisa terpingkal-pingkal", katanya. Ia mencontohkan salah satu adegan film dimana Kasino memanggil salah satu peragawati untuk tampil dengan kalimat: 'Berikutnya adalah artis dari Ndiwek'. "Ini luar biasa Mas. Kasino mengucapkan Ndiwek persis seperti orang Jombang. Diwek Jombang dikenalkan ke publik oleh Kasino" kata Deni.
Hampir semua film baru ia tonton. Tak luput "DKI Reborn". Ia lalu mengulang kalimat "Jangkrik Bos" di kampus. Atau frasa-frasa lain di film itu. Tahun 2016 kami pernah mengagendakan nonton sekuel film Jason Bourne terakhir, tapi tidak jadi. Baru pada 2017 di PIMNAS Makasar saya nonton bareng dua kali dengannya. Satu di Studio XXI (bertiga saja dgn dr Bambang, film thriller), satu lagi di TSM XXI (serentak hampir semua TPKK, film action agen AS).
Sepulang nonton jangan tanya lagi apa yang dibicarakan. Kami bisa membahas film tersebut sampai 1 jam setelahnya. Mulai dari alur, tokoh, maupun sinematografi.
*
Foto, Kopi dan Fashion
Di TPKK, mungkin Deni yang paling aktif di IG. Setiap kali kami kegiatan, ia selalu memotret apapun, terutama makanan. Ia hobby plating. Makanan yang belum disantap, ditata dulu sedemikian rupa, lalu difoto, unggah.
Ia juga suka kopi. Di rumah ia punya banyak stok kopi nusantara. Baginya, kopi bukan hanya soal kebutuhan kafein untuk melek, tapi juga simbol ideologi ekonomi bangsa. Ia mencintai kopi nusantara karena itu wujud keberpihakan pada petani. Di Taiwan ia tampak memperkenalkan cara minum kopi terbalik ala Sumatera.
Sesuai tugasnya di kemahasiswaan, Deni selalu menjaga penampilan agar selalu fresh dan uptodate. Pergaulan dengan mahasiswa binaannya tidak hanya sekedar akademik, tapi juga studentship. Tahun 2017 ia menjadi pembina ormawa. Ia memegang penuh pengawasan terhadap student center. Ia sukses, bahkan sempat menulis buku tentang kegiatan kemahasiswaan. Salah satu tipsnya adalah menjaga penampilan untuk selalu selaras dengan mahasiswa.
*
Karya dan Prestasi
Diantara koleganya di FKP, Deni adalah salah satu yang berprestasi. Ia menulis buku "Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah" yang membuatnya sering road show ke beberapa rumah sakit di Jawa Timur. Tahun 2017 saya dan istri menemani Deni dan istri makan malam di Handayani Resto dan check in di Front One Hotel ketika keduanya hendak membedah buku tersebut di RSUD Pamekasan.
Terlalu banyak prestasi untuk dosen semuda Deni. Baik di akademik, maupun non akademik. Ketika prajab misalnya, ia tampil terbaik. Saat S3 di Taiwan ia juga banyak mendapat pujian dari teman kuliah, profesor, PPI, dan organisasi keagamaan. Deni mjd kader NU aktif di Taiwan.
Di Dirmawapun demikian. Deni andalan utk LKMM-TL, khususnya saat turun lapangan ke desa-desa di Trawas. Yg paling saya ingat adl soal pemberdayaan petani desa Ketapanrame pembudidaya ashitaba yg merupakan komoditas ekspor. Deni dgn dibantu Mas Kirom (manajer di Vanda Hotel langganan Dirmawa) dg mahir berkomunikasi dg kades atau tokoh desa utk kesuksesan materi-praktek manajemen isu publik.
*
Akhir Pertemuan
Tahun 2018 ia berangkat ke Taiwan untuk lanjut S3. Saat itu ia mundur dari TPKK dan diganti Bu Nadia. Saya masih di TPKK hingga awal 2020 dan diganti Pak Sunan. Saya tidak ingat persis kapan saya bertemu Deni. Kemungkinan adalah saat dia pulang ke Indonesia tahun 2019 untuk liburan.
Saya membaca status FB dan fotonya di dalam pesawat dengan latar tower Taipei 101. Ia menyebut kepal tangan, kewajiban, tugas bangsa, kesatuan dll. Saya menyapa di komentar, namun tidak ada balasan seperti biasa. Seminggu kemudian saya mendengarnya dirawat di RSKI Unair.
Tanggal 28 Juli saya vaksinasi tahap 2 di RSUA. Karena berdekatan jarak, saya ingin sekali berkunjung ke Deni. Namun mengingat intensifnya perawatan dan penjagaan di RSKI, saya urungkan niat. Saya berharap bisa bertemu dengan Deni kelak saat dia keluar dari RSKI.
Petang ini berita duka itu datang. Deni telah pergi. Saya menyesal tidak menyempatkan menjenguk minggu lalu, atau bahkan sekedar kirim berita via WA. Saya tidak akan pernah melihatnya lagi.
Saya, TPKK, FKP dan semua keluarga besar Unair sangat kehilangan Deni. Ia mungkin dosen muda paling populer (bersama Pak Pulung, TPKK dari FKM) di mata mahasiswa. Saya sejak lama sudah membayangkan bahwa sepulangnya kelak dari Taiwan, Deni akan aktif di direktorat tertentu, karena memang passionnya dalam bekerja, dan mengabdi, dengan mental prestatif.
Ia meninggalkan kenangan indah pada saya dan semua. Candaannya, senyumnya, suaranya, semangatnya, foto dan kata-kata motivasinya sangat membekas dan berkesan. Kelucuan, keriangan dan antusiasme Deni dapat dijejak di dua buah hatinya, Ghaida dan Mikala. Si bungsu sering ia sebut tiger (junior).
Semoga semua pengabdian serta transfer ilmu dan pengalamannya di Unair menjadi amal jariyah. Saya bersaksi bahwa Deni Yasmara adalah muslim-mukim yang baik.
Deni Yasmara.. Agent.. Tiger.. Kembalilah ke padang perburuan abadi.. Pamekasan, 7 Agustus 2021 Sumber: FB Deni Yasmara

Frekuensi


Atau apapun namanya, utk menamai sebuah keadaan dimana kita tersambung dg sebuah gelombang, apapun itu.
Contohnya begini, sy pernah dlm satu momen tahlil-yasin 40 hari berpulangnya kakek sy, tiba-tiba di tengah membaca ayat-ayat al-Qur'an sy merasa alm kakek sy ada di sekitar sy. Sy tdk berani membuka mata, krn takut momen itu hilang krn gangguan persepsi indra mata. Momen itu cukup lama, mungkin sekitar 2 menit. Tiba-tiba hilang. Tak ada lagi "kakek" sy di sekitar sy. Yg ada hanya keluarga yg ikut ngaji.
Pernah juga d thn 2008-an di saat sdg mendengar cerita ttg orang-orang tua, lalu sy merasa begitu dekat dg mbahti sy (nenek dari ayah sy). Beberapa detik sj, smpai sy menangis.
Pernah pula suatu mlm seorang tetangga bercerita ttg alm KH Hasyimi guru madrasah sy. Tiba-tiba paman itu berteriak "Ya Allah". Dia bilang "ada pak kyai di belakang sy barusan". Sy juga merinding.
Itu sy sebut menyatunya frekuensi antara kita dg seseorang yg tdk se alam dg kita. Mereka "hadir" dlm keberadaan kita. Entah dlm pikiran yg nyata, entah dlm perasaan, entah dlm penglihatan (yg ini tentu susah), entah pendengaran. Intinya, kita yg berbeda ruang dan waktu dg mereka, tiba-tiba bisa "bersua" dlm bbrp detik atau menit sj.
Sekian detik dalam 24 jam, diantara 12 bulan yg kita punya, belum tentu kita punyai kesempatan langka itu.
Hal lain ttg frekuensi tentu banyak. Tdk melulu perkara "pertemuan" kita dg mereka yg di alam lain. Bahkan dg diri kita sendiripun kita jarang menyatu. Ad yg menyebutnya khusyu', khidmat, hening, atau apapun kita sebutnya.
Banyak latihan diterapkan, baik yoga, meditasi, semedi, atau menyendiri di gunung, sungai, makam atau bahkan lautan. Solat sejatinya media utk menyatukan diri yg mikro dg Tuhan yg supermakro. Tapi kita jarang mencapainya (illa 'alal-khosyi'in). Karena jika kita bisa, maka masalah duniawi ini tak ada artinya. Yg berarti hanya keridoan ketika "bersama" Nya.
Menemukan frekuensi adl tugas berat. Saking beratnya, kita bahkan tak berada di dalamnya walau 1 menit di antara tahun-tahun yg kita miliki.
Sprti menemukan gelombang suara dari luar angkasa diantara jutaan gelombang yg ada di radio penangkap sinyal. Mungkin ia sesungguhnya ada di tiap detik dan lapis. Hanya saja kita jauh. Atau ketika dekat, kita tdk siap.
Saya ingat buku Celestine Prophecy karya James Redfield hadiah dari Mas Luthfi, yg berita ttg suku Maya di Peru yg mengihilang bersama dlm sebuah frekuensi waktu.
Sy juga ingat buku Sakral dan Profan karya Mircea Eliade, bahwa di dunia ini banyak tempat dan waktu yg sakral utk menangkap frekuensi. Axis mundi dan illud tempus. Kita bahkan membangun tempat khusus utk menyambut waktu khusus, baik di dalam rumah berupa altar atau di tengah hutan.
Kata Gie, ada orang yg "ziarah ke Mekkah". Kata Coelho, ad pula yg "menempuh jalur Santiago". Ada yg ke Yerussalem, ke Nepal, berdoa di pura atau candi, di gunung Kawi, dan sebagainya. Semua untuk menemukan frekuensi (saja).

Pamekasan, 10 Agustus 2021