Kamis, 01 Agustus 2019

I Stand for AEY


Seorang ketua Ikatan Alumni (IKA) Universitas Brawijaya (UB) harus mampu menjadi simbol dan simpul. Simbol karena ia adalah puncak suatu tatanan (organisasi). Simpul karena ia merupakan pusat sebuah ikatan (komunitas).

Profesor Ahmad Erani Yustika (AEY) adalah simbol akademis-intelektual, yaitu sebagai alumni Jerman dengan karya ilmiah buku, jurnal, dan artikel yang tak terbilang. Ia juga simbol organisatoris-struktural, yaitu pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif INDEF, anggota BSBI, Dirjen PPMD (dan PKP) Kemendes PDT, dan sekarang Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi.

Prof. Erani juga pernah menjadi simpul di beberapa jaringan, sebagai bukti bahwa ia diterima semua kalangan, yaitu sebagai salah satu ketua PPI Jerman, pengurus pusat ISEI, anggota dewan ahli PP ISNU, dewan nasional FITRA, serta moderator debat Capres pada Pilpres 2014.

IKA bukan semata organisasi berorientasi program kerja, tapi juga berbasis konsolidasi. Dengan demikian, IKA tidak cocok untuk pemimpin dengan style one man show. Ia lebih sesuai untuk karakter solidarity maker. Prof. Erani termasuk tipe kedua.

Sewaktu menjadi mahasiswanya di Jurusan IESP pada awal tahun 2000-an, saya merasakan langsung bagaimana cara Prof. Erani mendidik. Ia tidak menyuruh, tapi memberi contoh. Ia juga tidak memerintah, tapi menunjukkan arah. Alhasil, kami tidak hanya menjadi mahasiswa, tapi juga tumbuh sebagai kader dan mitra diskusinya. Prof. Erani membentuk hubungan yang egaliter dan ikatan yang solider.

IKA penuh potensi. Oleh karenanya, IKA harus dapat mewadahi, menyatukan, memunculkan dan menaikkan potensi tersebut. Menjadi ketua IKA harus diniatkan sebagai gerakan komunal, bukan lompatan personal. Kepentingan publik harus diletakkan jauh di atas interes privat.

Dengan jaringan regional-nasional-gobal yang dimilikinya; visi progresif yang integral dalam tulisan, ucapan dan tindakannya; serta kapasitas untuk menampung ide-gagasan, dan kapabilitas untuk mengartikulasikannya, saya yakin bahwa Profesor Ahmad Erani Yustika akan menjadikan IKA UB sebagai organisasi yang tidak hanya kontributif pada alumni dan almamater, dan solutif pada problem masyarakat, tapi juga konstruktif terhadap pembangunan bangsa dan negara ke depan.

"I Stand for You, Mas Prof!"

Akhmad Jayadi
Alumni IESP FE UB '99

Rabu, 31 Juli 2019

Pengalaman (Baru Bisa Dapat) IELTS 6.5

Saya ingin berbagi cerita ttg proses sy mendapat nilai IELTS 6.5. Nilai tsb sebenarnya rendah, dibanding syarat di beberapa kampus di LN yg minta 7. Namun, nilai 6.5 sudah bisa melamar utk S3 di banyak kampus english spoken country, misalnya Australia. Jika nilai anda 6 atau 5.5, tidak apa-apa, asal targetnya adalah negara non english, misal beberapa kampus Asia. Tentu tdk bisa utk Singapura, krn mrk minta 7. Hehe

Baiklah, saya mulai dari cerita sy yg sdh ambil 4x IELTS. Pertama 6.5, thn 2017, tapi listening msh 5.5. Kedua 2018, 6.5 juga, tp writing msh 5.5. Ketiga 2018 akhir, malah parah, 6.0 saja, dg nilai sub test yg semakin amburadul. Yg keempat, alhamdulillah 6.5 dan no band less than 6.0. Utk biaya jangan tanya, karena sekali tes sekitar 2.8-2.9 juta. Untunglah dari 4x tes tsb, 2x dibayari lembaga tempat sy bekerja.

Kembali ke tips and trik. Sebenarnya sama sj dg yg lain, yakni:
1. Kuasai aturan teknisnya. Misal, listening ada aturan bahwa jawaban hanya terdiri atas 2-3 kata/angka
2. Kuasai tipe soal. Misal: listening itu ada map; reading ada T, F, NG; writing ada map, proses, dan grafik, serta writing 2 apakah opini, agree disagree, ataukah comparison
3. Rajin berlatih utk lebih familiar dg soal-soal yg ada sprti tertulis d no 1 dan 2
4. Sering lihat youtube ttg apa itu IELTS dan bagaimana cara menaklukkannya
5. Tenang, sehat dan bugar saat ujian. Ini yg paling penting

Sementara demikian. Sy blm layak membahas tiap sub tes, krn sdh ada jagonya. Google menyediakan semuanya. Semoga sukses teman-teman.



Minggu, 09 Desember 2018

Berdua Saja

Aku rindu saat berdua denganmu saja
dimana ruang dan waktu adalah milik kita
tak ada riuh atau obrolan tak penting lainnya

Aku ingin berdua denganmu saja
dimana kau bisa menagkap seluruhku
tak ada distorsi atas ucap dan tatap

Aku ingin berdua denganmu saja
dimana kesungkanan tak punya tempat
yang ada hanya ketulusan dan kepolosan


Rabu, 28 Maret 2018

Papa Jack



Hadari, lebih sering dipanggil Jack, adalah kawan saya SMP. Kami sekelas di 3A SMPN Larangan. Jack dikenal selain karena paling jangkung seangkatan, juga karena gayanya yang luwes, blak-blakan dan apa adanya. Di SMP dia tidak suka bolos, tapi super berani tengkar. Jangankan teman sekolah, pada yang lebih tua dia berani. Pernah dia disuruh berdiri oleh Pak Nuruddin (guru bahasa Inggris) karena tidak bawa buku. Setelah berdiri 5 menit, dia duduk. Waktu ditegur, dia jawab: “Saya capek, Pak”. Pak Nuruddin pun diam saja.

Dia senang bernyanyi. Saya ingat dulu dia punya kaset album Tenda Biru Desy Ratnasari. Tape-nya adalah tape kotak. “Mirip kompor gas berdiri” kata Kusnaidi. Saya, Kusnaidi, Anang, Ibnu sering ke rumahnya, bawa kaset. Dengarkan music di sana, merekam suara, dan sebagainya. Tapi sebenarnya agenda kalau ke Jack adalah masak mie instan, makan degan, atau potong rambut. Jack pintar memotong rambut. Kami semua langganan ke dia. Modelnya selalu terbaru, dan gratis tentunya.

Kalau sekarang terkenal Dylan 1990 dengan motor Honda CB, dulu Jack 1996 juga terkenal dengan RX-Special punya ayahnya. Jack baru ganti FIZ chrome menjelang lulus SMP, sebuah kado kelulusan sekolah dari ortunya. Waktu itu teman diskusinya tentang motor adalah Bahrud, Anang atau Mulyadi. Kelak ketika SMA saya sering ikut Jack. Walau SMA kami beda, Jack sering antar saya pagi-pagi ke SMA 1. Saya sungguh hutang banyak budi pada dia.

Kelas 2-3 SMA kami sudah jarang kumpul, karena perkawanan sudah beda. Tapi kami akhirnya kumpul lagi saat kuliah. Saya, Ibnu dan Jufri kuliah di Unibraw, sementara Jack di SOB. Kusfan di El-Rahma, dan Anang di UMM. Kami tinggal satu kamar berempat di kos-kosan yang sungguh mengenaskan. Penuh ayam dan air ledeng yang terbatas. Kami tetangga kos dengan Salim. Tahun 2000 Jack kuliah S1 di Uniga. Kusfan di UM. Jufri pindah kos, saya dan Ibnu tetap sekamar.

Tahun 2004-2005 kami (saya, Ibnu dan Jack) satu kos lagi di dekat Uniga. Di saat itu, sebelum kuliahnya selesai, Jack ikut Pilkades, menerima permintaan warga sekitar yang menokohkan ayahnya. Saya lihat saat coblosan. Jack menang. Dia sah sebagai kepala desa Sendang, Kec. Pragaan, Kab. Sumenep 2004-2012. Saya ingat, saya dan Salim diajak ke rumahnya untuk memberinya masukan tentang membangun desa. Saat pelantikan, karena seragam putih-putih, maka sepatu harus putih. Karena di Pamekasan Sumenep tidak ada sepatu pantofel putih, akhirnya dia pake sepatu putih tipe sport (sepatu hanggar, sol tipis, bukan sepatu ket).

Waktu saya di Jakarta 2007 Jack hubungi saya. Katanya dia sidang di MK tentang konflik tanah. Sayang sekali kami tidak berjumpa di Jakarta. Sejak itu, lama sekali saya tidak jumpa Jack. Padahal dulu saat masih SMP sering sekali. Bahkan pernah saat Idul Fitri siang hari, saya ke rumahnya, sementara dia baru saja antar tunangannya (sepupunya sendiri, tapi tidak jodoh).

Tahun 2015 saya ketemu lagi Jack di Pamekasan dengan Klebun Sipul, Kusfan dan Salim. Lalu gak jumpa lagi. Tahun 2018 ini special, karena Jack tiba-tiba hadir dalam grup WA SMP. Dia meramaikan WAG dengan canda, lagu dan fotonya. Dia cerita tentang anak-istri dan hidupnya. Dengan pengalamannya yang luar biasa di politik desa, bisnis tambak, atau asmaranya, saya merasa masih seperti anak kecil, perlu banyak dengar nasehat darinya. Sering dia ajak teman di grup untuk solat dan sedekah. Dia sangat dewasa. Karena hormat, saya rasa ada baiknya saya panggil dia Papa Jack, nama yang pas untuk raganya yang dewasa dan jiwanya yang bijaksana.

Welcome back, Papa Jack!
Surabaya, 280318

Rabu, 06 Desember 2017

Sedikit tentang Transfusi Darah



Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 83 tahun 2014, transfusi darah hanya boleh dilakukan di oleh tiga lembaga, yaitu unit transfusi (UTD) pemerintah, pemerintah daerah, dan Palang Merah Indonesia (PMI). UTD dapat berupa unit pelaksana teknis (UPT) pemerintah atau UTD rumah sakit pemerintah.

Tiga unit di atas bisa melakukan transfusi di lokasi kantor, atau di tempat lain dimana banyak warga berkumpul, misalnya bazaar, taman publik, expo, kampus, konser, car free day, dll. Hari ini saya tercatat melakukan donor darah kali kelima di PMI Kota Surabaya. Sesungguhnya saya sudah donor lebih dari 10x, namun di tempat unit berbeda.

Saya pertama kali donor di PMI Jakarta tahun 2007 di sebuah bazaar. Selanjutnya di UTD RS Sardjito Yogyakarta antara 2011-2012. Lalu antara 2013-2015 di UTD RS Soetomo Surabaya. Sejak 2016 saya rutin donor di PMI Kota Surabaya. Pernah juga di tahun 2016 saya donor di PMI Kab Pamekasan.

Sistem Informasi

Ketika pertama kali donor, kita akan diberi kartu donor oleh unit, berisi data kita, utamanya golongan darah dan resus. Pada donor selanjutnya kartu tersebut harus dibawa, jika tidak maka kita akan diperlakukan sebagai donor baru, dan akan mendapat kartu baru. Beda unit, beda pula kartunya. Data donor hanya disimpan di satu unit, tidak terintegrasi. Disinilah letak kelemahan sistem informasi transfusi darah Indonesia.

Apa dampaknya? Pertama, donor akan dirugikan dalam perhitungan jumlah kali donor. PMI memberi penghargaan donor ke 10x, 25x, 50x dan 100x. Dalam kasus saya misalnya, jika saja sistem informasi transfusi darah Kementerian Kesehatan RI terintegrasi, maka saya bisa dapat penghargaan hari ini (atau pd donor sebelumnya). Karena tiap unit punya data sendiri, maka donor saya di UTD lain tidak dihitung (bahkan donor saya di PMI Kab Pamekasan pun tak bernilai) bagi PMI Kota Surabaya. Memang donor bukan soal ingin mendapat penghargaan, tapi itu bisa menjadi hiburan bagi donor, sebagaimana bingkisan susu, vitamin, bikuit, mie, atau kaos pada tiap kali selesai donor 😉 😊

Kedua, pendonor bisa memalsukan data di unit berbeda. Menurut ilmu kesehatan, donor selanjutnya adalah 75 hari setelah donor saat ini (kalkulasi pembentukan sel darah merah). Saya hanya bisa donor lagi setelah 18 Feb 2018. Tapi andaikata saya mau donor bulan depan saya masih bisa, asal bukan di PMI Kota Surabaya, karena unit lain tidak punya histori donor saya. Memang tidak akan ada donor yang mau membahayakan dirinya dengan donor di bawah 75 hari, tapi andai mendesak, misal karena keluarga membutuhkan darah kita, transfusi akan terjadi. Dampaknya, tentu pada kita sendiri, atau pada pasien penerima darah kita.

Ketiga, biaya teknis yang tinggi, seperti cetak kartu, cek darah dan resus di awal, dll. ini memang remeh temeh, tapi jangan di-sepele-kan, karena cetak kartu terbukti membuat gaduh DPR RI, Kemdagri dan Kemkumham. Kita terbiasa berboros-boros dengan banyak kartu. Mulai ATM, Credit Card, e-money, bahkan kartu pelanggan sebuah minimarket 😢😭

Apa solusinya? Satu saja, integrasi sistem informasi, antar berbagai kementerian. Kemdagri, Kemenkes, Kemenag (untuk menyebut 3 saja) misalnya bisa kerjasama dalam integrasi data. Jadi KTP tidak hanya memuat data sipil demografis kita, tapi juga data (aktivitas) kesehatan kita, pun pula data (kegiatan) keagamaan kita (misal, umroh, haji, ormas dll). Lembaga lain tentu dapat memanfaatkan sistem informasi integratif ini, misalnya KPU (kartu pemilih), kemenkumham (data hukum) kemensos (kartu jaminan sosial), kemenkop UKM (kartu koperasi), KKP (kartu nelayan), kemenkeu (NPWP) dll.

Tapi karena integrasi sistem informasi merupakan kabar buruk bagi banyak badan, kementerian dan lembaga, maka tentu proyek besar ini banyak ditentang. Pengurangan kartu berarti reduksi anggaran, thus eliminasi potensi proyek. Integrasi sistem informasi disukai publik, kecuali pihak-pihak yang dirugikan karenanya, seperti pengemplang pajak, kriminal, pemburu rente kebijakan, dan segelintir pembocor anggaran. Demikian.

Sby, 5 Des 2017

Seni dan Sosial



Sesungguhnya setiap orang adalah seniman, dalam kualitas dan kuantitasnya masing-masing. Jika ada seniman yang produktif dan terkenal, itu karena ia serius menekuni bidangnya. Bisa jadi karya seniman rumahan dan jalanan tidak kalah dengan seniman profesional yang karyanya dipajang di studio, galeri, museum, istana dll.

Intip saja remaja yang jatuh cinta, karyanya pasti banyak, mulai puisi, sketsa, lukisan, cerpen, vignet, dll. Atau lihat rumah para aktivis dan ilmuwan. Ia pasti punya seni tentang idola dan perjuangannya. Memang tidak banyak, dan mungkin rendahan, tapi percayalah, itu adalah masterpiece-nya. Karya dengan luapan emosi tertinggi.

Saya mau berbagi tentang proses kreasi saya sendiri. Ada dua kondisi dimana saya bisa menggambar. Pertama, ketika saya ingin. Saat pikiran saya mengidolakan seseorang, maka saya menggambarnya. Saya pernah menggambar Cak Nur. Lumayan. Tapi sobek, karena saya gambar di HVS untuk mading. Pernah pula Muhammad Iqbal, nasibnya pun sama. Dua gambar yang bisa saya selamatkan, yaitu Lenin dan Tan Malaka (Lamp 1). Saya gambar dengan pensil gradasi, cotton bud, dan kertas linen. Hasrat menggambar muncul setelah membaca buku mereka.



Kedua, ketika dipaksa. Di kampung saya, jika istri hamil 7 bulan (Madura: pelet betteng), maka ada selamatan. Ngaji surat Yusuf dan Maryam, mandi kembang, melepas ayam perawan, serta sajian berupa kombinasi beras, telur, jajan, bunga, dan dua nyiur gading.  Khusus nyiur ini, biasanya digambar karakter laki dan perempuan. Selama ini saya lihat gambarnya asal-asalan. Misal gambar boneka atau wajah kartun. Maka pada hamil 7 bulan istri dan sepupu, saya ambil alih dan putuskan untuk menggambar wayang. Saya gambar dengan pensil dan jarum (Lamp 2).

Lalu kawan karib saya bertanya, apa hubungan antara hamil 7 bulan dengan gambar wayang? Saya jawab tidak ada. Itu hanya ekspresi seni. Tidak ada kesyirikan di dalamnya. Agama itu, kata Yudi Latif, butuh 3 hal: mitos, logos, dan etos. Gambar saya hanyalah etos. Ekspresi budaya. Surat al-Qur’an adalah logos. Mendoakan di masa hamil 7 bulan adalah mitos.

Ada aliran islam yang kaya etos. Sehingga setiap momen agama (maulid nabi, isra’ mi’raj, tahun baru islam, nisfu sya’ban, nuzulul Qur’an) sangat ramai. Penuh ekspresi budaya. Islam tidak hanya menjadi ritus personal, tapi juga selebrasi sosial. Tapi ada pula islam yang tidak mau etos, karena memandangnya sebagai bid’ah. Etos tidak ada dalam mitos dan logos islam, menurutnya. Hasilnya, kata Yudi, cukup kering dan kaku.



Kembali ke saya. Ada beberapa momen lain dimana saya dipaksa berkarya. Misalnya nikahan dan haji/umroh keluarga/sahabat, perayaan hari besar islam di masjid/musolla. Saya berkarya sebisanya, dengan kertas karton, stirofoam dan cat asturo untuk membuat kaligrafi dan ornamen. Memang bukan untuk diabadikan, hanya untuk kebutuhan musiman.

Tapi bagi saya itulah pengertian seni yang sebenarnya. Yaitu ekspresi cipta, rasa dan karsa kita, yang mewujud dalam bentuk karya. Bahwa itu terkenal dan dikenang, hanya waktu dan sejarah yang membuktikan. Karena merawat, menilai, mempublikasikan dan mempopulerkan seni adalah urusan profesi lain. Sementara urusan seniman hanya sampai pada lahirnya karya.

Sby, 5 Des 2017


Senin, 27 November 2017

Pengantar Teori Ekonomi Makro

Setiap selesai mengajar matakuliah ini saya selalu menyisipkan spirit untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik. Sesi akhir dari PTE Makro adalah tentang tantangan pembangunan ekonomi negara sedang berkembang, seperti Indonesia. Masalah seperti kemiskinan, kelaparan, pengangguran, ketertinggalan teknologi, kebocoran anggaran, kesehatan, dan pendapatan perkapita adalah masalah yang baik untuk diangkat sehingga mahasiswa sadar betapa kita tertinggal dari negara maju seperti Singapura dan Malaysia.

Saya berdoa dan berharap pada tiap mahasiswa di kelas saya bahwa mereka bisa menikmati kemajuan teknologi negara maju, sehingga sepulang dari sana mereka tergerak untuk membangun Indonesia dari yang terkecil. Ilmu PTE Makro sejatinya punya tiga tujuan, yaitu: pertama, pemahaman teknis tentang ilmu ekonomi makro itu sendiri, seperti definisi, rumus dan grafik. Tujuan kedua pengetahuan tentang perbedaan antara negara sendiri dan negara maju melalui indikator-indikator makro. Ketiga, adalah untuk memperbaiki keadaan masyarakat melalui instrumen yang disediakan oleh makroekonomi, seperti inflasi, suku bunga, anggaran, dll.

Saya merasa bahwa melalui perkuliahan ini saya bisa memulai banyak project, misalnya menulis masalah ekonomi makro Indonesia, namun saya belum melakukannya. Perkuliahan makro ke depan harus menjadi project bagi saya. InsyaAllah.

Sby, 28 Nov 2017