Sejak tadi malam (070809) dua stasiun TV (Metro dan TV One) menayangkan sebuah drama penggerebekan Noordin M. Top (NMT) di sebuah rumah di Desa Beji, Kedu, Temanggung. Hari ini (080809) Densus 88 berhasil melumpuhkan NMT dengan ledakan bom dan tembakan. Dengan mengesampingkan terlebih dahulu kebenaran dari berita tersebut, ada beberapa pertanyaan yang patut dipertanyakan: pertama, TV tadi malam melaporkan bahwa di dalam rumah tersebut ada beberapa orang, yaitu 4 orang, tapi ternyata akhirnya hanya 1 orang di dalamnya, yaitu NMT. Kedua, diberitakan bahwa dari keempat orang di dalam rumah tersebut, kabarnya ada satu orang warga asing, lalu kenapa tidak ada berita tersebut lebih lanjut? Bukankah berita tentang keterlibatan orang asing ini sangat menarik?
Ketiga, Kalau memang NMT sempat teriak minta tolong atas luka yang dideritanya, serta mengaku bahwa dia NMT, mengapa sebegitu cengengnya NMT? Bukankah NMT ini adalah gembong teroris, jagoan sejati dan orang yang tidak mudah menyerah? Lalu mengapa dengan sangat mudah dia mengaku dirinya NMT? Mengapa tidak melakukan perlawanan yang berarti? Mengapa tidak ada satupun anggota Densus dan polisi yang terkena perlawanan NMT? Bukankah NMT ini sangat canggih dan kejam?
Keempat, dalam kasus Azahari dan NMT ini, tidak pernah ditayangkan secara nyata kepada pemirsa televisi wajah asli Azahari dan NMT? Biarkanlah pemirsan puas dan percaya 100% bahwa buronan kelas kakap ini benar-benar mati di tangan polisi kita. Mengapa ditutup-tutupi? Sungguh aneh ketika masyarakat dipaksa percaya pada berita, sedangkan pemirsa tidak diberikan sebuah gambar aslinya.
Kelima, kalau dulu dalam penangkapan Azahari hanya ANTV yang menayangkan, kenapa sekarang hanya dua TV saja? Apakah ada kedekatan khusus dua TV tersebut dengan Densus dan Polri?
Banyak lagi pertanyaan yang akan ditanyakan, sambil menunggu berita TV, saya kumpulkan ide-ide terlebih dahulu.
Jakarta, 080809, 17:06
Sabtu, 08 Agustus 2009
Rabu, 05 Agustus 2009
Kebahagiaan Hadiah Nisfu Sya'ban
Pagi hari, Rabu, 5 Agustus 2009 bertepatan dengan tanggal 14 Sya'ban 1430 H, saya mendengar kabar membahagiakan dari istri saya, Anita, di rumah kami. Dia barusaja tes kehamilan, hasilnya positif. Apa yang menghatui saya selama ini ternyata terjawab sudah. Pada hari Senin malam, 3 Agustus 2009 itu saya tidak bisa tidur. Istri saya akan pulang esok harinya ke Pamekasan dari acara diklat pra jabatan di Singosari, Malang.
Malam itu pula saya bermimpi menggendong anak laki-laki dari teman saya. Dua kali, dengan anak dan ortu yang berbeda. Sejak tanggal 1 Agustus isteri saya sudah mengeluh sakit, muntah dan mual. Saya tidak terpikir sama sekali bahwa dia hamil. Saya baru terpikir Senin malam itu. Dan sejak tadi pagi, maka mimpi saya rupanya akan menjadi benar, dan ketegangan saya terjawab sudah.]
Malam ini adalah malam nisfu Say'ban, artinya malam dimana rapor manusia akan diganti oleh Allah, dari rapor lama ke rapor baru. Malam ini amalan manusia akan dicatat pada buku rapor baru. Maka sebagian mazhab islam menyarankan agar membaca surah Yaasiin (surah 36) sebanyak 3 kali. Bacaan pertama kita disunnahkan berdoa agar kita diberi kekuatan iman. Bacaan kedua, kita disunnahkan berdoa agar diberi umur panjang dan barokah untuk ibadah. Bacaan ketiga kita disunnahkan berdoa agar diberi rejeki yang halal, baik dan barokah juga untuk ibadah. Ini sebenarnya adalah ijma', bukan perintah al-qur'an dan hadits. Tapi karena ijma' juga termasuk salah satu sumber hukum dalam islam (terutama pada mazhab tertentu), maka dijadikan sebuah amalan yang kuat untuk dijalankan. Hitung-hitung daripada tidak melakukan apa-apa pada malam nisfu sya'ban.
Saya lihat kehamilan istri saya (yang dipastikan kebenarannya melalui tes urine tadi pagi) adalah sebuah kabar gembira pada saat muslim merayakan nisfu sya'ban. Nisfu sya'ban artinya juga adalah 15 hari sebelum puasa ramadhan dimulai. 15 hari muslim se dunia akan menjalankan ibadah puasa, rukun islam yang ketiga. Istri saya sudah terlambat datang bulan 7 hari, artinya 22 hari sebelum puasa, artinya juga 3 minggu sebelum ramadhan tiba. Artinya jika ramadhan berjalan 1 minggu, maka usia keterlambatan M istri saya adalah 1 bulan. Demikianlah.
Saya tidak tahu, mana yang dipakai sebagai usia kehamilan, apakah usia keterlambatan M ataukah keterlambatan M dikurangi 1 bulan.
Kalau memakai hitungan bahwa kehamilan dihitung sejak sebulan sebelum datang bulan, maka pada akhir Agustus nanti usia kehamilan istri saya adalah 2 bulan. Jika demikian, dengan menggunakan hitungan normal kehamilan (9 bulan), maka usia kandungan istri saya akan mencapai 9 bulan pada akhir bulan Maret. Kemungkinan (semoga Allah mengijinkan istri saya hamil secara sehat, lancar dan selamat, Amiin ya Rabb..) janin yang ada di kandungannya akan lahir pada akhir Maret 2010 atau awal April 2010.
Saya tidak tahu yang mana, karena bisa jadi asumsi saya salah. Ataupun kalau asumsinya benar, maka Allah bisa berkehendak lain. Kewajiban manusia hanyalah mempelajari tanda-tanda alam termasuk kehamilan ini. Ini adalah sunnatullah, ini adalah ayat kauniyah-Nya.
Malam ini saya bahagia karena masih bertemu dengan nisfu sya'ban. Malam ini saya bahagia karena menghadapi nisfu sya'ban dengan kabar gembira bahwa istri saya hamil.
Ya Allah, jadikanlah dari pasangan kami dan keturunan kami penyejuk mata.
Ya Allah, berikanlah kemampuan dan kekuatan bagi kami dalam memikul beban yang kau Amanatkan pada kami.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong, takabbur, riya' dan 'ujub, karena sesungguhnya apa yang telah kami lakukan dan kami terima sesungguhnya dari Engkau. Dan tak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi yang di luar kehendak-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami aniaya terhadap diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, maka sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi-Mu, makhluk-Mu yang paling sempurna, Muhammad SAW, beserta keluarganya.
Amiin.. Amiin.. Amiin.. yaa Rabbal-'aalamiin..
Jakarta, 5 Agustus 2009
(1 hari setelah Mbah Surip wafat)
Malam itu pula saya bermimpi menggendong anak laki-laki dari teman saya. Dua kali, dengan anak dan ortu yang berbeda. Sejak tanggal 1 Agustus isteri saya sudah mengeluh sakit, muntah dan mual. Saya tidak terpikir sama sekali bahwa dia hamil. Saya baru terpikir Senin malam itu. Dan sejak tadi pagi, maka mimpi saya rupanya akan menjadi benar, dan ketegangan saya terjawab sudah.]
Malam ini adalah malam nisfu Say'ban, artinya malam dimana rapor manusia akan diganti oleh Allah, dari rapor lama ke rapor baru. Malam ini amalan manusia akan dicatat pada buku rapor baru. Maka sebagian mazhab islam menyarankan agar membaca surah Yaasiin (surah 36) sebanyak 3 kali. Bacaan pertama kita disunnahkan berdoa agar kita diberi kekuatan iman. Bacaan kedua, kita disunnahkan berdoa agar diberi umur panjang dan barokah untuk ibadah. Bacaan ketiga kita disunnahkan berdoa agar diberi rejeki yang halal, baik dan barokah juga untuk ibadah. Ini sebenarnya adalah ijma', bukan perintah al-qur'an dan hadits. Tapi karena ijma' juga termasuk salah satu sumber hukum dalam islam (terutama pada mazhab tertentu), maka dijadikan sebuah amalan yang kuat untuk dijalankan. Hitung-hitung daripada tidak melakukan apa-apa pada malam nisfu sya'ban.
Saya lihat kehamilan istri saya (yang dipastikan kebenarannya melalui tes urine tadi pagi) adalah sebuah kabar gembira pada saat muslim merayakan nisfu sya'ban. Nisfu sya'ban artinya juga adalah 15 hari sebelum puasa ramadhan dimulai. 15 hari muslim se dunia akan menjalankan ibadah puasa, rukun islam yang ketiga. Istri saya sudah terlambat datang bulan 7 hari, artinya 22 hari sebelum puasa, artinya juga 3 minggu sebelum ramadhan tiba. Artinya jika ramadhan berjalan 1 minggu, maka usia keterlambatan M istri saya adalah 1 bulan. Demikianlah.
Saya tidak tahu, mana yang dipakai sebagai usia kehamilan, apakah usia keterlambatan M ataukah keterlambatan M dikurangi 1 bulan.
Kalau memakai hitungan bahwa kehamilan dihitung sejak sebulan sebelum datang bulan, maka pada akhir Agustus nanti usia kehamilan istri saya adalah 2 bulan. Jika demikian, dengan menggunakan hitungan normal kehamilan (9 bulan), maka usia kandungan istri saya akan mencapai 9 bulan pada akhir bulan Maret. Kemungkinan (semoga Allah mengijinkan istri saya hamil secara sehat, lancar dan selamat, Amiin ya Rabb..) janin yang ada di kandungannya akan lahir pada akhir Maret 2010 atau awal April 2010.
Saya tidak tahu yang mana, karena bisa jadi asumsi saya salah. Ataupun kalau asumsinya benar, maka Allah bisa berkehendak lain. Kewajiban manusia hanyalah mempelajari tanda-tanda alam termasuk kehamilan ini. Ini adalah sunnatullah, ini adalah ayat kauniyah-Nya.
Malam ini saya bahagia karena masih bertemu dengan nisfu sya'ban. Malam ini saya bahagia karena menghadapi nisfu sya'ban dengan kabar gembira bahwa istri saya hamil.
Ya Allah, jadikanlah dari pasangan kami dan keturunan kami penyejuk mata.
Ya Allah, berikanlah kemampuan dan kekuatan bagi kami dalam memikul beban yang kau Amanatkan pada kami.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong, takabbur, riya' dan 'ujub, karena sesungguhnya apa yang telah kami lakukan dan kami terima sesungguhnya dari Engkau. Dan tak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi yang di luar kehendak-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami aniaya terhadap diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, maka sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi-Mu, makhluk-Mu yang paling sempurna, Muhammad SAW, beserta keluarganya.
Amiin.. Amiin.. Amiin.. yaa Rabbal-'aalamiin..
Jakarta, 5 Agustus 2009
(1 hari setelah Mbah Surip wafat)
Kamis, 30 Juli 2009
Menulis Esai itu Mudah (1)
Kurang lebih Ignas Kleden pernah berkata bahwa esai itu adalah obrolan yang dituliskan. Pembicaraan ringan yang kemudian disalin dalam bentuk kalimat tertulis, sehingga menjadi lebih sistematis. Esai bukan karya ilmiah yang menuntut kajian objektif berdasarkan sumber yang valid dan sahih, tapi esai juga bukan sebuah sajak yang merupakan karya imajiner dari sang penulis dimana subjektivitas menjadi dasar utama. Esai berada di antara keduanya. Antara objektif dan subjektif.
Banyak kalangan menganggap esai itu sebuah aktivitas yang menyenangkan, karena kita tidak perlu mengernyitkan kening untuk berpikir dan menulis serius. Tidak pula harus terbang di atas batas hayal. Esai tetap berpijak pada realita dengan tetap memperbolehkan penulisnya mengandaikan sesuatu. Esai adalah perpaduan antara otak kanan dan otak kiri.
Esai menggambarkan sesuatu dengan sentuhan pribadi sekaligus menjaga jarak dengan objek tulisan. Tarik ulur, mendekat menjauh dari objek tulisan menjadi kekuatan esai. Kedekatan penulis terhadap objek esai menjadi penentu sejauhmana kualitas objek digambarkan. Kemampuan penulis menjaga jarak dari objek juga menjadi kekuatan penulis untuk menjelaskan pada pembaca bahwa penulis objektif.
Ada yang bilang bahwa menulis esai itu diawali dari otak kanan lalu bergerak secara bergantian ke otak kiri. Berbeda dengan puisi yang sepenuhnya menggunakan intuisi, serta karya ilmiah yang sepenuhnya mengkonfrontir validitas dan kesahihan, maka esai membebaskan penulis dari belenggu keduanya. Esai membebaskan penulis untuk bergerak lincah dari kiri ke kanan, dari intuisi ke referensi pasti.
Rata-rata esai berupa penggambaran seseorang dan karyanya (biografi), karena memang dalam esai biografis ini penulis memiliki banyak waktu dan celah untuk melukiskan tentang objek. Berbeda dengan peristiwa dan tempat atau waktu. Dalam peristiwa, tempat dan waktu, penulis terkungkung pada objek yang mati dan tidak human. Dalam biografi, penulis bisa dengan mudah mengeksplor dan menggali humanisme objek. Banyak sekali sisi kemanusiaan yang bisa dengan fleksibel digambarkan. Apalagi objek tulisan tersebut memang berisi manusia yang secara nyata berinteraksi dengan penulis. Tafsiran dan interpretasi atas objek sangat luas dan elastis.
Mulailah menulis esai dengan menggambarkan seseorang. Mulailah dari biografi singkat. Gambarkanlah sosok objek semampu yang kita buat.
(bersambung ke tulisan bagian 2)
Jakarta, 30 Juli 2009
Banyak kalangan menganggap esai itu sebuah aktivitas yang menyenangkan, karena kita tidak perlu mengernyitkan kening untuk berpikir dan menulis serius. Tidak pula harus terbang di atas batas hayal. Esai tetap berpijak pada realita dengan tetap memperbolehkan penulisnya mengandaikan sesuatu. Esai adalah perpaduan antara otak kanan dan otak kiri.
Esai menggambarkan sesuatu dengan sentuhan pribadi sekaligus menjaga jarak dengan objek tulisan. Tarik ulur, mendekat menjauh dari objek tulisan menjadi kekuatan esai. Kedekatan penulis terhadap objek esai menjadi penentu sejauhmana kualitas objek digambarkan. Kemampuan penulis menjaga jarak dari objek juga menjadi kekuatan penulis untuk menjelaskan pada pembaca bahwa penulis objektif.
Ada yang bilang bahwa menulis esai itu diawali dari otak kanan lalu bergerak secara bergantian ke otak kiri. Berbeda dengan puisi yang sepenuhnya menggunakan intuisi, serta karya ilmiah yang sepenuhnya mengkonfrontir validitas dan kesahihan, maka esai membebaskan penulis dari belenggu keduanya. Esai membebaskan penulis untuk bergerak lincah dari kiri ke kanan, dari intuisi ke referensi pasti.
Rata-rata esai berupa penggambaran seseorang dan karyanya (biografi), karena memang dalam esai biografis ini penulis memiliki banyak waktu dan celah untuk melukiskan tentang objek. Berbeda dengan peristiwa dan tempat atau waktu. Dalam peristiwa, tempat dan waktu, penulis terkungkung pada objek yang mati dan tidak human. Dalam biografi, penulis bisa dengan mudah mengeksplor dan menggali humanisme objek. Banyak sekali sisi kemanusiaan yang bisa dengan fleksibel digambarkan. Apalagi objek tulisan tersebut memang berisi manusia yang secara nyata berinteraksi dengan penulis. Tafsiran dan interpretasi atas objek sangat luas dan elastis.
Mulailah menulis esai dengan menggambarkan seseorang. Mulailah dari biografi singkat. Gambarkanlah sosok objek semampu yang kita buat.
(bersambung ke tulisan bagian 2)
Jakarta, 30 Juli 2009
Rabu, 29 Juli 2009
Tirmizi Al-Katiri (TAK) 1: Ketua Korkom yang Fashionable dan Pede
Saya mengenalnya pertama kali tahun 1999 dalam sebuah perjalanan pulang dari kampus ke kosan. Kurang lebih 2 minggu setelah ospek berakhir. Seorang teman sekelas saya kebetulan satu grup dengan TAK dalam ospek. Teman saya bilang bahwa TAK itu pemberani, pintar orasi, berwatak pemimpin, berpenampilan sangar tapi sebenarnya hatinya lembut. Kecuali yang terakhir, saya belum bisa mempercayai cerita itu 100%. Nada bicara TAK waktu itu memang lembut. Mungkin karena teman saya ini cukup cantik, saya tidak tahu. Di jalan itu mereka bicara tidak lama, sekedar saling tanya kuliah. Saya tidak diperkenalkan dengan TAK. Kamipun tidak saling memperkenalkan diri.
Karena pergaulan saya waktu awal kuliah hanya sebatas pada teman sekelas, teman Madura dan teman kos, maka wajar saya dan TAK jarang bertemu. Pertemuan kedua kami adalah saat saya ikut LK I di HMI Komisariat Hukum Unibraw. Waktu itu tahun 2000. saya memang telat ikut LK. TAK hadir sebagai mahasiswa baru fakultas hukum yang sudah ikut LK I di Komek (selain di Dipak `99, TAK juga lulus UMPTN secara ajaib di FHUB '00). Di LK itu saya melihat sendiri bagaimana TAK berdiskusi dalam forum. Suaranya lantang. Pertanyaan dan argumentasinya kritis. Dia seperti mahasiswa yang sudah senior. Saya paham, kerena dia sudah digodok di Komek selama 1 tahun.
Pertemanan kami kemudian menjadi sangat intensif ketika saya putuskan untuk tinggal di Wagil 17B. Itu sekitar tahun 2002. Ketika Yusuf menjadi Ketua Komek, TAK menjadi Kabid PTKP. Saya sebagai Kadep Penerbitan di bawah P3A yang dikomandani saudara Anto. Dalam kepengurusan ini kami cukup akrab berinteraksi, lebih-lebih lagi dalam RAK –yang kelak memilih saya sebagai pengganti Yusuf. TAK kemudian memilih jalur Korkom menggantikan saudara Andi (Perikanan).
Ketua Korkom
Ada momentum yang cukup menegangkan dalam proses TAK menjadi ketua Korkom UB. Waktu itu Musyawarah Komisariat-Komisariat (Muskom) UB diselenggarakan di Graha Insan Cita (GIC) yang terletak di ujung utara Jalan Soekarno-Hatta. Ada banyak bakal calon yang dijagokan. Saya menilai bahwa masing-masing komisariat tidak mau kehilangan bargain of power-nya begitu saja di momentum ini. Hampir semuanya memajukan satu bakal calon. Hukum mencalonkan saudara Suci. Pertanian mengamanatkan saudara Salim. MIPA adalah Cahya. TP saudara Hariyanto. Ekonomi, tentu saja, TAK. Ada empat tahap yang harus dilalui yaitu pencalonan, penyampaian visi-misi, pernyataan kesediaan, dan pemilihan.
Tapi takdir memang tidak bisa dihindari. Setelah melewati satu tahap menegangkan dimana semua bakal calon tersebut harus memperoleh minimal 1 suara untuk maju ke tahap selanjutnya, akhirnya TAK lolos ke seleksi selanjutnya. Andai saja Hendra (waktu itu sebagai Ketua PTKP sekaligus peserta utusan) cukup pede untuk tidak menuliskan nama TAK dalam kertas suara, maka TAK tidak akan lolos, karena ternyata TAK hanya mendapat 1 suara, yaitu dari Komek sendiri, dan takdir TAK akan berbeda sepenuhnya dari sekarang ini.
Ketika tahap pernyataan kesediaan dimulai, saya ingat sekali, TAK duduk di kursi paling utara. Sedangkan pernyataan dimulai dari kursi paling selatan. Salim, pemilik kursi pertama itu, juga sebagai satu-satunya calon yang paling ditakuti TAK, secara mengejutkan menyatakan ketidak bersediaannya. Satu nafas kami tarik dengan sangat lega, karena Salim adalah calon yang dianggap paling berat. Selain intelek, punya track record sukses sebagai Ketua Umum Komperta dan anggota DPM UB, dia juga sangat berjasa pada Korkom kepengurusan Andi dengan membentuk Pusat Pengembangan Intelektualitas Kader (PusPIK).
Menyusul kursi kedua, juga tidak bersedia. Kursi ketiga dan seterusnya sama juga. Sampai pada kursi terakhir, kursi TAK, semua hadirin terdiam. Lalu tertawa. Ada juga yang menunggu dan harap-harap cemas. Bahkan ada yang meledek agar TAK juga menyatakan ketidakbersediaannya. Berharap ada pencalonan ulang. Beberapa detik kemudian, dengan suara mantap dan lantangnya, TAK berlafal:
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya menyatakan bersedia menjadi Ketua HMI Korkom UB periode selanjutnya!".
Semua hadirin tepuk tangan. Saya dan Hendra tidak dapat menahan haru. Kami semua saling berjabat tangan dan berpelukan menyelamati kemenangan bersama ini. TAK terpilih secara otomatis dan aklamatif. Tak ada tahap pemilihan karena semua calon, kecuali TAK, gugur demi hukum. Lagu Mars HMI pun dilantunkan dengan khidmat bersama-sama. Semua berdiri dan mengepalkan tangan kiri ke atas. Bulu kuduk saya merinding. Mata saya berkaca-kaca. Kami sadar, perjuangan bukannya berkahir, justru baru akan dimulai!
Fashionable
Entah TAK mendapat kalimat itu darimana, tapi begitulah yang disampaikannya ketika seorang kader perempuan dari Komisariat MIPA membandingkan prestasi TAK dengan para ketua korokom sebelumnya. Kader itu bilang, bahwa Ratno terkenal dengan keberhasilannya membawa HMI pada kemenangan di pemilwa raya. Andi dengan kegantengan, kegagahan dan kematangan strateginya (walaupun dalam pemilwa raya calon HMI kemudian kalah). Sedangkan Tirmizi:
"Terkenal dengan penampilannya. Yang lain boleh lebih hebat dan lebih ganteng, tapi kalau penampilan, Tirmizi-lah yang paling fashionable. Bukan begitu, Jay?"
Kalimat di atas tidak diucapkan kader perempuan tadi. TAK memotong perbandingan itu dan menyambungnya dengan kalimatnya sendiri. Saya yang mendengar kalimat itu tidak dapat menahan tawa geli. Gadis itu, apalagi.
Ini memang ciri khas TAK yang, dalam istilah Yusuf, suka klaim personal secara berlebihan. Setelah kalimat itu, dia lalu mengeluarkan statement-nya yang hingga kini tidak akan pernah bisa saya lupa. Katanya, alasan kenapa orang arab itu tampil parlente, `fashionable' dan suka makanan, karena memang:
"Orang arab itu Jay, suka toto roso (selera makan) lan toto seliro (penampilan). Orang Jawa itu suka toto kromo (adab dan sopan santun). Sedangkan orang Madura itu toto agomo (agama dan ibadah)."
Terhadap pernyataan di atas, saya tidak pernah konfrontirkan dengan orang lain, karena itu adalah ungkapan personal. Sah-sah saja diucapkan di jaman kebebasan bersuara dan berekspresi ini. Apalagi diucapkan hanya di depan saya. Tapi kalau diamat-amati, rasa-rasanya ada benarnya juga.
Pede
TAK memang dikenal sebagai orang yang luar biasa percaya diri. Pernah di tahun 2004 dia duduk satu meja dengan pembicara regional dan nasional. Dan dia tidak kehilangan satu centimeter pun ke-pede-annya walaupun acara itu ditonton oleh mahasiswa dan dosen satu ruangan penuh Gedung Widya Loka UB.
Forum itu adalah seminar untuk mengenang wafatnya Cak Munir. Pembicaranya antara lain Suciwati Munir dan Dedi Priambudi (LBH Surabaya). Pembicara lainnya saya lupa. TAK sebagai pembicara (perwakilan) dari kalangan mahasiswa, khususnya kader HMI Unibraw. Waktu 10 menit yang diberikan padanya dilanggar begitu saja dengan pidatonya yang berapi-api. Bapak Ibnu Tricahyo (FH) sebagai penanggungjawab acara tersebut dibuat merah padam akibat ulah TAK. Tapi justru tepuk tangan dan sorak hadirin bergemuruh saat TAK melontarkan kalimat-kalimatnya. Salah satunya adalah:
"Kita semua telah kehilangan Jundullah, tentara Allah! Cak Munir bin Thalib bukan hanya milik orang Arab! Bukan pula milik kader HMI dan FHUB! Tapi juga menjadi pahlawan bagi semua warga yang kemanusiaannya ditindas oleh kekuatan militer!".
Dia meneriakkan kalimat itu bersama topi golf putih ADIDAS menutupi kepalanya, jaket eksekutif cokelat CROCODILE, celana black jeans komprang TANPA MEREK dan sepatu boots hitam BALLY. Benar-benar fashionable dan pede. Saya duduk di barisan hadirin paling depan bersama beberapa pengurus HMI lainnya. Selesai memberi pidato, dia melirik ke arah kami, tersenyum khas, lalu mengangkat alis, seolah bertanya:
"Gimana, mantap? Tidak kalah sama pembicara lainnya, kan?"
(bersambung)
Jakarta, 11 April 2008
Karena pergaulan saya waktu awal kuliah hanya sebatas pada teman sekelas, teman Madura dan teman kos, maka wajar saya dan TAK jarang bertemu. Pertemuan kedua kami adalah saat saya ikut LK I di HMI Komisariat Hukum Unibraw. Waktu itu tahun 2000. saya memang telat ikut LK. TAK hadir sebagai mahasiswa baru fakultas hukum yang sudah ikut LK I di Komek (selain di Dipak `99, TAK juga lulus UMPTN secara ajaib di FHUB '00). Di LK itu saya melihat sendiri bagaimana TAK berdiskusi dalam forum. Suaranya lantang. Pertanyaan dan argumentasinya kritis. Dia seperti mahasiswa yang sudah senior. Saya paham, kerena dia sudah digodok di Komek selama 1 tahun.
Pertemanan kami kemudian menjadi sangat intensif ketika saya putuskan untuk tinggal di Wagil 17B. Itu sekitar tahun 2002. Ketika Yusuf menjadi Ketua Komek, TAK menjadi Kabid PTKP. Saya sebagai Kadep Penerbitan di bawah P3A yang dikomandani saudara Anto. Dalam kepengurusan ini kami cukup akrab berinteraksi, lebih-lebih lagi dalam RAK –yang kelak memilih saya sebagai pengganti Yusuf. TAK kemudian memilih jalur Korkom menggantikan saudara Andi (Perikanan).
Ketua Korkom
Ada momentum yang cukup menegangkan dalam proses TAK menjadi ketua Korkom UB. Waktu itu Musyawarah Komisariat-Komisariat (Muskom) UB diselenggarakan di Graha Insan Cita (GIC) yang terletak di ujung utara Jalan Soekarno-Hatta. Ada banyak bakal calon yang dijagokan. Saya menilai bahwa masing-masing komisariat tidak mau kehilangan bargain of power-nya begitu saja di momentum ini. Hampir semuanya memajukan satu bakal calon. Hukum mencalonkan saudara Suci. Pertanian mengamanatkan saudara Salim. MIPA adalah Cahya. TP saudara Hariyanto. Ekonomi, tentu saja, TAK. Ada empat tahap yang harus dilalui yaitu pencalonan, penyampaian visi-misi, pernyataan kesediaan, dan pemilihan.
Tapi takdir memang tidak bisa dihindari. Setelah melewati satu tahap menegangkan dimana semua bakal calon tersebut harus memperoleh minimal 1 suara untuk maju ke tahap selanjutnya, akhirnya TAK lolos ke seleksi selanjutnya. Andai saja Hendra (waktu itu sebagai Ketua PTKP sekaligus peserta utusan) cukup pede untuk tidak menuliskan nama TAK dalam kertas suara, maka TAK tidak akan lolos, karena ternyata TAK hanya mendapat 1 suara, yaitu dari Komek sendiri, dan takdir TAK akan berbeda sepenuhnya dari sekarang ini.
Ketika tahap pernyataan kesediaan dimulai, saya ingat sekali, TAK duduk di kursi paling utara. Sedangkan pernyataan dimulai dari kursi paling selatan. Salim, pemilik kursi pertama itu, juga sebagai satu-satunya calon yang paling ditakuti TAK, secara mengejutkan menyatakan ketidak bersediaannya. Satu nafas kami tarik dengan sangat lega, karena Salim adalah calon yang dianggap paling berat. Selain intelek, punya track record sukses sebagai Ketua Umum Komperta dan anggota DPM UB, dia juga sangat berjasa pada Korkom kepengurusan Andi dengan membentuk Pusat Pengembangan Intelektualitas Kader (PusPIK).
Menyusul kursi kedua, juga tidak bersedia. Kursi ketiga dan seterusnya sama juga. Sampai pada kursi terakhir, kursi TAK, semua hadirin terdiam. Lalu tertawa. Ada juga yang menunggu dan harap-harap cemas. Bahkan ada yang meledek agar TAK juga menyatakan ketidakbersediaannya. Berharap ada pencalonan ulang. Beberapa detik kemudian, dengan suara mantap dan lantangnya, TAK berlafal:
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya menyatakan bersedia menjadi Ketua HMI Korkom UB periode selanjutnya!".
Semua hadirin tepuk tangan. Saya dan Hendra tidak dapat menahan haru. Kami semua saling berjabat tangan dan berpelukan menyelamati kemenangan bersama ini. TAK terpilih secara otomatis dan aklamatif. Tak ada tahap pemilihan karena semua calon, kecuali TAK, gugur demi hukum. Lagu Mars HMI pun dilantunkan dengan khidmat bersama-sama. Semua berdiri dan mengepalkan tangan kiri ke atas. Bulu kuduk saya merinding. Mata saya berkaca-kaca. Kami sadar, perjuangan bukannya berkahir, justru baru akan dimulai!
Fashionable
Entah TAK mendapat kalimat itu darimana, tapi begitulah yang disampaikannya ketika seorang kader perempuan dari Komisariat MIPA membandingkan prestasi TAK dengan para ketua korokom sebelumnya. Kader itu bilang, bahwa Ratno terkenal dengan keberhasilannya membawa HMI pada kemenangan di pemilwa raya. Andi dengan kegantengan, kegagahan dan kematangan strateginya (walaupun dalam pemilwa raya calon HMI kemudian kalah). Sedangkan Tirmizi:
"Terkenal dengan penampilannya. Yang lain boleh lebih hebat dan lebih ganteng, tapi kalau penampilan, Tirmizi-lah yang paling fashionable. Bukan begitu, Jay?"
Kalimat di atas tidak diucapkan kader perempuan tadi. TAK memotong perbandingan itu dan menyambungnya dengan kalimatnya sendiri. Saya yang mendengar kalimat itu tidak dapat menahan tawa geli. Gadis itu, apalagi.
Ini memang ciri khas TAK yang, dalam istilah Yusuf, suka klaim personal secara berlebihan. Setelah kalimat itu, dia lalu mengeluarkan statement-nya yang hingga kini tidak akan pernah bisa saya lupa. Katanya, alasan kenapa orang arab itu tampil parlente, `fashionable' dan suka makanan, karena memang:
"Orang arab itu Jay, suka toto roso (selera makan) lan toto seliro (penampilan). Orang Jawa itu suka toto kromo (adab dan sopan santun). Sedangkan orang Madura itu toto agomo (agama dan ibadah)."
Terhadap pernyataan di atas, saya tidak pernah konfrontirkan dengan orang lain, karena itu adalah ungkapan personal. Sah-sah saja diucapkan di jaman kebebasan bersuara dan berekspresi ini. Apalagi diucapkan hanya di depan saya. Tapi kalau diamat-amati, rasa-rasanya ada benarnya juga.
Pede
TAK memang dikenal sebagai orang yang luar biasa percaya diri. Pernah di tahun 2004 dia duduk satu meja dengan pembicara regional dan nasional. Dan dia tidak kehilangan satu centimeter pun ke-pede-annya walaupun acara itu ditonton oleh mahasiswa dan dosen satu ruangan penuh Gedung Widya Loka UB.
Forum itu adalah seminar untuk mengenang wafatnya Cak Munir. Pembicaranya antara lain Suciwati Munir dan Dedi Priambudi (LBH Surabaya). Pembicara lainnya saya lupa. TAK sebagai pembicara (perwakilan) dari kalangan mahasiswa, khususnya kader HMI Unibraw. Waktu 10 menit yang diberikan padanya dilanggar begitu saja dengan pidatonya yang berapi-api. Bapak Ibnu Tricahyo (FH) sebagai penanggungjawab acara tersebut dibuat merah padam akibat ulah TAK. Tapi justru tepuk tangan dan sorak hadirin bergemuruh saat TAK melontarkan kalimat-kalimatnya. Salah satunya adalah:
"Kita semua telah kehilangan Jundullah, tentara Allah! Cak Munir bin Thalib bukan hanya milik orang Arab! Bukan pula milik kader HMI dan FHUB! Tapi juga menjadi pahlawan bagi semua warga yang kemanusiaannya ditindas oleh kekuatan militer!".
Dia meneriakkan kalimat itu bersama topi golf putih ADIDAS menutupi kepalanya, jaket eksekutif cokelat CROCODILE, celana black jeans komprang TANPA MEREK dan sepatu boots hitam BALLY. Benar-benar fashionable dan pede. Saya duduk di barisan hadirin paling depan bersama beberapa pengurus HMI lainnya. Selesai memberi pidato, dia melirik ke arah kami, tersenyum khas, lalu mengangkat alis, seolah bertanya:
"Gimana, mantap? Tidak kalah sama pembicara lainnya, kan?"
(bersambung)
Jakarta, 11 April 2008
El-Fath dan Otoritas Intelektual Komek
Sebelum saya mewawancarai Sri Ajati untuk penelusuran biografi Chairil Anwar, terlebih dahulu saya kirim SMS pada tiga senior saya. "Berapa usia si `binatang jalang' waktu meninggal dunia?", tulis saya pada mereka. Kemudian satu balasan saya terima. "Kurang lebih 27 tahun", bunyi SMS itu dalam nadaragu. Mereka bertiga, dalam penilaian saya, adalah representasi peminat sastra untuk generasi masing-masing di HMI Komisariat Ekonomi Unibraw (Komek).
Dalam wawancara, nenek berusia 83 tahun itu bilang bahwa Chairil adalah pemuda yang selalu haus ilmu. Di tangannya selalu ada buku. Lalu ingatan saya tertuju pada Fathurrahman Effendi alias el-Fath (eF), seorang dari dua senior yang tidak menjawab SMS saya tadi. Dalam perjalanannya kemanapun, eF tidak lupa membawa buku."Peralatan mandi boleh lupa, tapi buku adalah teman setia" begitu kurang lebih dia berkata. Buku apapun yang dibawa eF, selalu menjadi menarik bagi teman-teman diKomek. Saya tidak tahu, mungkin karena buku itu memang menarik, atau mungkin hanya karena ta'dzim pada eF secara personal, sehingga apapun buku pilihannya, seperti menjadi wajib diikuti dan dibaca.
EF memang menjadi rujukan dan patron bagi banyak kader. Termasuk saya. Pernah suatu sore tahun 2001 dalam acara Latihan Kader (LK) 1 Komek diBatu, eF mengisi materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Materi itu dirasa beratoleh banyak kader. Pengurus yang biasanya berkumpul di ruang panitia, waktu itu malah berbaur dengan peserta LK. Salah seorang pengurus beralasan bahwa ini adalah kesempatan langka karena yang memberi materi adalah eF. Orang yang tepat untuk materi tersebut. Lantas sayapun ikut. Dan benar, eF memberikan materi ketuhanan pada peserta dengan bahasa yang mudah. Dia menyampaikannya seperti dia berbicara pada dirinya sendiri, seperti soliloqui. Saat sesi tanya jawab, banyak peserta mengacungkan tangan. Bahkan panitia dan pengurus, termasuk saya, tidak melewatkannya begitu saja.
Berbagai tema sulit dan berat selalu menjadi renyah dalambahasa eF. Dulu ketika masih tahun pertama di Komek, saya berkumpul dengan kader-kader baru di Hall Watugilang 17B. Tak ada diskusi karena semuanya masih `baukencur'. Tiba-tiba eF datang, dan seorang kader berseru "Beri kami wacanatentang `teologi pembebasan', Mas!". Lalu`kuliah' mengalirlah. Semua mengangguk-angguk seperti mengerti. Termasuk saya yang pada waktu itu belum tahu apa-apa tentang teologi, bahkan dalam arti harfiahnya.
Filsafat, tasawuf, sastra, budaya, agama, musik, politik dan sebagainya seolah dengan mudah ditelan oleh kehausan dan ketamakan eF pada ilmu. Dia tidak ragu mengambil cuti kuliah untuk ngaji dan mondok pada seorang kyai. Minatnya yang begitu besar pada ilmu membuat saya iri dan malu. Pada masa saya di Komek, jika ada diskusi, dimana di situ ada eF, semua diam dantidak berani menyanggah. Barangkali inilah yang disebut dengan otoritas intelektual, dimana tidak ada yang berani menambahi apatah lagi menyangkal pendapat `sang pembuka'.
Tidak hanya pada ihwal ilmu dia diakui. Pada gaya hidup pun tidak ada yang intervensi. Ketika para senior sudah `insyaf', dia masih asik dengan rambut gondrognya. Sewaktu dia ujian komprehensif S-1, bersama rekan-rekannya yang (juga ujian dan) sedang tegang, dia malah memakai kacamata hitam, seakan menertawai momen paling sakral dan menakutkan bagi para mahasiswa itu. Tidak seperti aktivis lainnya yang butuh teman diskusi ketika berjalan,dia justru menikmati pencariannya dalam kesendirian. Penampilannya adalahpaduan antara Mustofa Bisri, John Lennon dan Putu Wijaya.
Menjadi sarjana baginya hanyalah jembatan menuju pengabdian. Dia lalu memilih berkumpul dengan rakyat yang butuh penerangan `suluhilmu'- nya. Dia menjadi seperti `dian rakyat'. Gerakan Pemuda Anshor kota kelahirannya dia pilih sebagai sarana perjuangan. Sebuah pilihan yang tidak populis bagi mantan aktivis sekaliber eF. Jika mau, dia bisa saja mengajar disebuah universitas berkelas. Tapi, sebagaimana dia memahami filsafat dan tasawuf, dia pun memaknai dan menjalani hidup yang nisbi ini dengan sebenar-benarnya, dalam teori dan prakteknya sekaligus. Pilihan sebagaimana diambil seorang Ahmad Tohari dan YB Mangunwijaya.
Saya lalu teringat kalimat Goenawan Mohammad, "Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?".
Seorang sarjana dan putera ulama yang kembali ke desa kecil adalah suatu yang besar bagi rakyat desanya. Menggerakkan organisasi kecil demi pemberdayaan dan pencerahan masyarakat dari bayang gelap `mendung' konsumerisme, sekularisasi, pemurtadan, alienasi, korupsi-kolusi- nepotisme dan apatisme negara pada rakyat adalah satu hal yang besar bagi manusia-manusia desa.
Pada tingkat ini, tidak bisa tidak, saya mengacungkan jempol untuk kesekian kali padanya. Dalam keyakinan bulat saya, walaupun dia bukan saintis eksakta, dia telah mampu menyublim makna relativitas Einstein menjadi padangan hidupnya. Masyarakat kecil dijadikannya laboratotium sosial untuk satu penemuan besar.
Ketika saya mengalami godaan dalam ibadah, saya memerlukan diri untuk SMS padanya. Seperti guru pada muridnya dia menasehati saya untuk tidak larut dalam hidup yang rutin dan mekanis. "Masih ada tujuan yang lebih abadi dari sekedar mengejar harta dan karir. Modal keagamaan yang kuat sebagaimana dicitrakan Madura janganlah kalah dengan gemerlap ibukota yang tak lebih hanya sebagai tempat transit mencari sesuap nasi" tulisnya. Lalu dengan sedikit menekan, dia meminta saya untuk mencari guru-guru sufi yang bertebaran diJakarta. Hingga kini saya belum melaksanakan sarannya. Sungguh saya akan malu jika kelak dia menanyakannya.
Hari ini, pemuda tinggi besar itu menikah. Saya pikir,inilah pernikahan yang paling dinanti oleh teman segenerasinya dan oleh beberapa kader pengagumnya di Komek. Tadi malam saya dengar beberapa rekan diJatim sudah berkumpul untuk tahniah pada `sang guru'. Mereka rela tidak masuk kerja demi menghadiri ritual penting `santri kelana' ini.
Dia memilih tanggal nikah tidak lebih dari tujuh hari setelah Maulid Nabi. Mungkin dia berharap, dan semoga memang demikian, dia mendapat barokah dari maulid itu, sebagaimana do'a yang saya panjatkan dan saya SMS-kan padanya semalam:
Allahummaallif bayna Fathurrahman wa zawjihi,
Kamaallafta bayna Adam AS wa Siti Hawa,
Kamaallafta bayna Yusuf AS wa Siti Zulaikha,
Kamaallafta bayna Ali KW wa Siti Fatimah az-Zahra,
Kama allafta bayna Muhammad SAW wa Siti Khadijah al-Kubra..
Pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan masa muda. Saya yakin di jiwanya yang luas, dia masih menjaga baik-baik semangat kaum muda, walaupun dia kini sudah bukan pemuda lagi. Pernikahan hanyalah masa peralihan dari jiwa muda seorang jejaka kepada jiwa dewasa seorang kepala rumah tangga. Penantiannya selama ini pun bukan karena ketidakmampuannya untuk menemukan sang belahan jiwa, tapi lebih karena tuntunan Yang Maha Kuasa untuknya menemukan tempat di waktu dan jalan yang tepat. Yang terbaik untuknya memang telah disiapkan-NYA. Sungguh semua telah dituliskan-NYA untuknya jauh sebelum dia lahir ke dunia.
Dan saya yakin, bahwa pernikahan ini bukanlah semata pernikahan biologis, individual, religius, dan emosional, melainkan juga ideologis, sosial dan intelektual. Pernikahan yang harmonis antara mikro dan makro kosmos. Sejalan dengan kemauan dan keharusan kemanusiaan universal. Pernikahan yang telah dikabarkan alam semesta melalui sasmita. Sebagaimana pernikahan lainnya.
SelamatKanda. .
Allahummaij' al baynahuma mawaddah warahmah
Warzuqhumawaladan shaliha..
Jakarta, 16 Rabi'ul Awwal 1429 H
24Maret 2008 M
Dalam wawancara, nenek berusia 83 tahun itu bilang bahwa Chairil adalah pemuda yang selalu haus ilmu. Di tangannya selalu ada buku. Lalu ingatan saya tertuju pada Fathurrahman Effendi alias el-Fath (eF), seorang dari dua senior yang tidak menjawab SMS saya tadi. Dalam perjalanannya kemanapun, eF tidak lupa membawa buku."Peralatan mandi boleh lupa, tapi buku adalah teman setia" begitu kurang lebih dia berkata. Buku apapun yang dibawa eF, selalu menjadi menarik bagi teman-teman diKomek. Saya tidak tahu, mungkin karena buku itu memang menarik, atau mungkin hanya karena ta'dzim pada eF secara personal, sehingga apapun buku pilihannya, seperti menjadi wajib diikuti dan dibaca.
EF memang menjadi rujukan dan patron bagi banyak kader. Termasuk saya. Pernah suatu sore tahun 2001 dalam acara Latihan Kader (LK) 1 Komek diBatu, eF mengisi materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Materi itu dirasa beratoleh banyak kader. Pengurus yang biasanya berkumpul di ruang panitia, waktu itu malah berbaur dengan peserta LK. Salah seorang pengurus beralasan bahwa ini adalah kesempatan langka karena yang memberi materi adalah eF. Orang yang tepat untuk materi tersebut. Lantas sayapun ikut. Dan benar, eF memberikan materi ketuhanan pada peserta dengan bahasa yang mudah. Dia menyampaikannya seperti dia berbicara pada dirinya sendiri, seperti soliloqui. Saat sesi tanya jawab, banyak peserta mengacungkan tangan. Bahkan panitia dan pengurus, termasuk saya, tidak melewatkannya begitu saja.
Berbagai tema sulit dan berat selalu menjadi renyah dalambahasa eF. Dulu ketika masih tahun pertama di Komek, saya berkumpul dengan kader-kader baru di Hall Watugilang 17B. Tak ada diskusi karena semuanya masih `baukencur'. Tiba-tiba eF datang, dan seorang kader berseru "Beri kami wacanatentang `teologi pembebasan', Mas!". Lalu`kuliah' mengalirlah. Semua mengangguk-angguk seperti mengerti. Termasuk saya yang pada waktu itu belum tahu apa-apa tentang teologi, bahkan dalam arti harfiahnya.
Filsafat, tasawuf, sastra, budaya, agama, musik, politik dan sebagainya seolah dengan mudah ditelan oleh kehausan dan ketamakan eF pada ilmu. Dia tidak ragu mengambil cuti kuliah untuk ngaji dan mondok pada seorang kyai. Minatnya yang begitu besar pada ilmu membuat saya iri dan malu. Pada masa saya di Komek, jika ada diskusi, dimana di situ ada eF, semua diam dantidak berani menyanggah. Barangkali inilah yang disebut dengan otoritas intelektual, dimana tidak ada yang berani menambahi apatah lagi menyangkal pendapat `sang pembuka'.
Tidak hanya pada ihwal ilmu dia diakui. Pada gaya hidup pun tidak ada yang intervensi. Ketika para senior sudah `insyaf', dia masih asik dengan rambut gondrognya. Sewaktu dia ujian komprehensif S-1, bersama rekan-rekannya yang (juga ujian dan) sedang tegang, dia malah memakai kacamata hitam, seakan menertawai momen paling sakral dan menakutkan bagi para mahasiswa itu. Tidak seperti aktivis lainnya yang butuh teman diskusi ketika berjalan,dia justru menikmati pencariannya dalam kesendirian. Penampilannya adalahpaduan antara Mustofa Bisri, John Lennon dan Putu Wijaya.
Menjadi sarjana baginya hanyalah jembatan menuju pengabdian. Dia lalu memilih berkumpul dengan rakyat yang butuh penerangan `suluhilmu'- nya. Dia menjadi seperti `dian rakyat'. Gerakan Pemuda Anshor kota kelahirannya dia pilih sebagai sarana perjuangan. Sebuah pilihan yang tidak populis bagi mantan aktivis sekaliber eF. Jika mau, dia bisa saja mengajar disebuah universitas berkelas. Tapi, sebagaimana dia memahami filsafat dan tasawuf, dia pun memaknai dan menjalani hidup yang nisbi ini dengan sebenar-benarnya, dalam teori dan prakteknya sekaligus. Pilihan sebagaimana diambil seorang Ahmad Tohari dan YB Mangunwijaya.
Saya lalu teringat kalimat Goenawan Mohammad, "Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?".
Seorang sarjana dan putera ulama yang kembali ke desa kecil adalah suatu yang besar bagi rakyat desanya. Menggerakkan organisasi kecil demi pemberdayaan dan pencerahan masyarakat dari bayang gelap `mendung' konsumerisme, sekularisasi, pemurtadan, alienasi, korupsi-kolusi- nepotisme dan apatisme negara pada rakyat adalah satu hal yang besar bagi manusia-manusia desa.
Pada tingkat ini, tidak bisa tidak, saya mengacungkan jempol untuk kesekian kali padanya. Dalam keyakinan bulat saya, walaupun dia bukan saintis eksakta, dia telah mampu menyublim makna relativitas Einstein menjadi padangan hidupnya. Masyarakat kecil dijadikannya laboratotium sosial untuk satu penemuan besar.
Ketika saya mengalami godaan dalam ibadah, saya memerlukan diri untuk SMS padanya. Seperti guru pada muridnya dia menasehati saya untuk tidak larut dalam hidup yang rutin dan mekanis. "Masih ada tujuan yang lebih abadi dari sekedar mengejar harta dan karir. Modal keagamaan yang kuat sebagaimana dicitrakan Madura janganlah kalah dengan gemerlap ibukota yang tak lebih hanya sebagai tempat transit mencari sesuap nasi" tulisnya. Lalu dengan sedikit menekan, dia meminta saya untuk mencari guru-guru sufi yang bertebaran diJakarta. Hingga kini saya belum melaksanakan sarannya. Sungguh saya akan malu jika kelak dia menanyakannya.
Hari ini, pemuda tinggi besar itu menikah. Saya pikir,inilah pernikahan yang paling dinanti oleh teman segenerasinya dan oleh beberapa kader pengagumnya di Komek. Tadi malam saya dengar beberapa rekan diJatim sudah berkumpul untuk tahniah pada `sang guru'. Mereka rela tidak masuk kerja demi menghadiri ritual penting `santri kelana' ini.
Dia memilih tanggal nikah tidak lebih dari tujuh hari setelah Maulid Nabi. Mungkin dia berharap, dan semoga memang demikian, dia mendapat barokah dari maulid itu, sebagaimana do'a yang saya panjatkan dan saya SMS-kan padanya semalam:
Allahummaallif bayna Fathurrahman wa zawjihi,
Kamaallafta bayna Adam AS wa Siti Hawa,
Kamaallafta bayna Yusuf AS wa Siti Zulaikha,
Kamaallafta bayna Ali KW wa Siti Fatimah az-Zahra,
Kama allafta bayna Muhammad SAW wa Siti Khadijah al-Kubra..
Pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan masa muda. Saya yakin di jiwanya yang luas, dia masih menjaga baik-baik semangat kaum muda, walaupun dia kini sudah bukan pemuda lagi. Pernikahan hanyalah masa peralihan dari jiwa muda seorang jejaka kepada jiwa dewasa seorang kepala rumah tangga. Penantiannya selama ini pun bukan karena ketidakmampuannya untuk menemukan sang belahan jiwa, tapi lebih karena tuntunan Yang Maha Kuasa untuknya menemukan tempat di waktu dan jalan yang tepat. Yang terbaik untuknya memang telah disiapkan-NYA. Sungguh semua telah dituliskan-NYA untuknya jauh sebelum dia lahir ke dunia.
Dan saya yakin, bahwa pernikahan ini bukanlah semata pernikahan biologis, individual, religius, dan emosional, melainkan juga ideologis, sosial dan intelektual. Pernikahan yang harmonis antara mikro dan makro kosmos. Sejalan dengan kemauan dan keharusan kemanusiaan universal. Pernikahan yang telah dikabarkan alam semesta melalui sasmita. Sebagaimana pernikahan lainnya.
SelamatKanda. .
Allahummaij' al baynahuma mawaddah warahmah
Warzuqhumawaladan shaliha..
Jakarta, 16 Rabi'ul Awwal 1429 H
24Maret 2008 M
Selasa, 28 Juli 2009
Jangan Takut Bermimpi
Apa adanya kita hari ini adalah karena dua hal, pertama karena Tuhan berkehendak begini atas diri kita. Dan kedua, impian kita yang kita wujudkan dengan kerja nyata. Hal pertama bisa jadi berhubungan atau tidak sama sekali dengan yang kedua, artinya kehendak Tuhan bisa jadi sesuai impian (doa dan kerja) kita atau tidak ada kaitan samasekali. Tuhan bisa memutuskan segala sesuatu tanpa sebab kita. Tapi hal kedua tidak akan terjadi tanpa hal pertama. Artinya apapun impian kita, tidak akan terjadi tanpa kehendak (ijin) Tuhan YME.
Terhadap hal ini, kita sepatutnya berangkat dari asumsi bahwa Tuhan akan mendengar doa dan menjawab impian kita. Maka ada empat hal yang harus kita punya, pertama impian, kedua kerja, ketiga doa, keempat tawakkal. Impian bisa juga diartikan niat. Impian bisa juga berarti cita-cita. Bekerja tidak mungkin tanpa niat. Pekerjaan yang dilakukan tanpa niat, tidak akan memiliki nilai apapun. Dia hanya akan menjadi sebuah aktivitas belaka. Hasil boleh jadi ada, tapi tidak ada nilai yang memuaskan. Kepuasan tentu akan diraih manakala hasil sesuai dengan harapan. Harapan itulah cita-cita. Harapan itulah niat. Maka sejak awal dan sejak dini, harus ditanamkan dalam diri kita, bahwa kita akan melakukan sesuatu berdasarkan niat.
Impian akan memberikan tambahan semangat dalam kerja kita mencapainya. Impian ibarat lampu yang akan menerangi jalan kita di malam hari. Dia yang akan tetap menuntun kita menuju titik tujuan. Manakala jalan kita beralih atau berbelok, lampu itu yang akan memberikan petunjuk bahwa kita telah salah arah. Maka sungguh lucu jika terdengar pernyataan dari seseorang yang mengatakan bahwa dirinya tidak punya impian sama sekali dalam hidupnya. Dia bilang bahwa hidupnya akan dibiarkan mengalir seperti air.
Ada teman saya memberi sebuah analogi pada saya waktu saya masih kuliah, "Panahlah rembulan, karena jika kau meleset, maka panahmu masih akan berpeluang mengenai bintang-bintang". Bagi saya analogi ini sungguh masuk di logika saya. Ini bisa kita tahbiskan pada impian mencari pacar ataupun impian mencapai cita-cita pekerjaan dan studi. Kurang lebih kalau kita ganti ke soal cita-cita, dia akan berbunyi begini, "Bercita-citalah setinggi mungkin, karena jikalaupun kau tak mampu meraihnya, kau masih berpeluang meraih cita-cita yang beberapa level di bawahnya".
Maka, mulai sekarang, marilah kita semua, jangan takut bermimpi. Jangan takut bercita-cita. Jangan takut meraih cita-cita itu. "Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak kan pernah dimenangkan", begitu Sutan Sjahrir pernah bilang. Makanya tidak heran jika Soekarno, Hatta, Sjahrir dan para pejuang kemerdekaan dulu bercita-cita terbaik pada masa itu, yaitu menghapuskan penjajahan di bumi Indonesia dan Indonesia harus merdeka. Mungkin bagi sebagian rakyat kecil, itu adalah cita-cita mustahil, mengingat kekuatan kompeni waktu itu. Tapi seperti saya tulis di atas, Tuhan bisa berkehendak tanpa atau sesuai impian kita.
Selamat bercita-cita.
Dan kejarlah cita-cita tersebut dengan kerja nyata, disiplin dan penuh semangat.
Jakarta, 28 Juli 2009
Terhadap hal ini, kita sepatutnya berangkat dari asumsi bahwa Tuhan akan mendengar doa dan menjawab impian kita. Maka ada empat hal yang harus kita punya, pertama impian, kedua kerja, ketiga doa, keempat tawakkal. Impian bisa juga diartikan niat. Impian bisa juga berarti cita-cita. Bekerja tidak mungkin tanpa niat. Pekerjaan yang dilakukan tanpa niat, tidak akan memiliki nilai apapun. Dia hanya akan menjadi sebuah aktivitas belaka. Hasil boleh jadi ada, tapi tidak ada nilai yang memuaskan. Kepuasan tentu akan diraih manakala hasil sesuai dengan harapan. Harapan itulah cita-cita. Harapan itulah niat. Maka sejak awal dan sejak dini, harus ditanamkan dalam diri kita, bahwa kita akan melakukan sesuatu berdasarkan niat.
Impian akan memberikan tambahan semangat dalam kerja kita mencapainya. Impian ibarat lampu yang akan menerangi jalan kita di malam hari. Dia yang akan tetap menuntun kita menuju titik tujuan. Manakala jalan kita beralih atau berbelok, lampu itu yang akan memberikan petunjuk bahwa kita telah salah arah. Maka sungguh lucu jika terdengar pernyataan dari seseorang yang mengatakan bahwa dirinya tidak punya impian sama sekali dalam hidupnya. Dia bilang bahwa hidupnya akan dibiarkan mengalir seperti air.
Ada teman saya memberi sebuah analogi pada saya waktu saya masih kuliah, "Panahlah rembulan, karena jika kau meleset, maka panahmu masih akan berpeluang mengenai bintang-bintang". Bagi saya analogi ini sungguh masuk di logika saya. Ini bisa kita tahbiskan pada impian mencari pacar ataupun impian mencapai cita-cita pekerjaan dan studi. Kurang lebih kalau kita ganti ke soal cita-cita, dia akan berbunyi begini, "Bercita-citalah setinggi mungkin, karena jikalaupun kau tak mampu meraihnya, kau masih berpeluang meraih cita-cita yang beberapa level di bawahnya".
Maka, mulai sekarang, marilah kita semua, jangan takut bermimpi. Jangan takut bercita-cita. Jangan takut meraih cita-cita itu. "Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak kan pernah dimenangkan", begitu Sutan Sjahrir pernah bilang. Makanya tidak heran jika Soekarno, Hatta, Sjahrir dan para pejuang kemerdekaan dulu bercita-cita terbaik pada masa itu, yaitu menghapuskan penjajahan di bumi Indonesia dan Indonesia harus merdeka. Mungkin bagi sebagian rakyat kecil, itu adalah cita-cita mustahil, mengingat kekuatan kompeni waktu itu. Tapi seperti saya tulis di atas, Tuhan bisa berkehendak tanpa atau sesuai impian kita.
Selamat bercita-cita.
Dan kejarlah cita-cita tersebut dengan kerja nyata, disiplin dan penuh semangat.
Jakarta, 28 Juli 2009
Senin, 27 Juli 2009
Nanang Suryadi (NS): Manajer para Seniman Pinggiran

Nanang Suryadi (NS): Manajer para Seniman Pinggiran
Suatu sore di tahun 2002 di Watu Gilang 17 B, seorang tamu hadir dengan kopiah seperti jamaah tabligh. Tamu itu langsung duduk di hall yang lengang itu. Berjongkok sambil memencet HPnya. Edi Syaiful Anwar, salah seorang penghuni yang mengetahui kedatangannya, langsung datang menyalami, dan mengajak saya yang kebetulan waktu itu sedang nonton televisi, untuk ikut diskusi dengan sang tamu, “Jay, ini Mas Nanang Suryadi, mantan ketua umum Komek.” Seketika itu saya baru tahu bahwa inilah sang sastrawan yang banyak dibicarakan di komek. Pada kesempatan itu beliau bercerita tentang kuliahnya di Jakarta. Sejak itu, saya akrab dan terpesona dengan tutur bahasanya yang apa adanya dan santun. Tidak menimbulkan kesan sungkan bagi seorang kader muda seperti saya waktu itu.
Obrolan kami selanjutnya banyak tentang puisi-puisinya. beliau lalu memberikan saya sebuah disket (waktu itu belum ada flash disc), berisi puisinya, Telah Dialamatkan Padamu (pada waktu naik cetak, kami juga diberi beberapa eksemplar buku tersebut). Saya baca puisi-puisi tersebut, isinya adalah kerinduannya pada sang kekasih –waktu itu mas Nanang belum menikah. Seluruh isi disket itu saya salin ke komputer saya. Beberapa saat Mas Nanang meminjam komputer saya untuk mengedit atau menuliskan beberapa idenya kala itu. Sayang sekali, oleh berjalannya waktu, komputer saya rusak. File asli dari NS menguap bersama rusaknya hardware di komputer tersebut.
Tidak banyak waktu yang saya luangkan dengan NS waktu itu, selain NS yang sibuk untuk menyelesaikan studi magisternya, beliau juga masih sibuk menyiapkan waktu untuk launching buku puisi Telah Dialamatkan Padamu. Launching buku yang diselenggarakan pada Rabu, 4 Juni 2003 malam di Resto Gama, pinggir kampus Unibraw, Malang tersebut dihadiri oleh banyak seniman seperti Bagyo Prasasti, Fatchurrahman Effendi, Jumali Alhambra dan para penyair kampus Ketawang Gede lainnya. Mereka membacakan sajak-sajak yang terkumpul dalam antologi puisi "Telah Dialamatkan Padamu".
Selang tidak beberapa lama dari launching buku tersebut (2003), NS menikahi Kunthi Hastorini, gadis Lumajang, yang menurut Yusuf Risanto, menjadi sumber inspirasi puisi-puisi NS pada tahun-tahun tersebut. Kami semua kader Komek diundang. Kami datang bersama-sama ke rumah barunya Mas NS di belakang terminal Landung Sari, berdekatan dengan rumah Mas Wildan Syafitri. Setelah acara resepsi tersebut kami mampir ke kediaman Mas Wildan.
Kini, tarian pena mas Nanang dan pada kertas Mbak Kunthi telah membuahkan dua sajak terindahnya yang berjudul Cahaya Hastasurya dan Arya Mada Hastasurya. Puisi hidup yang selalu mencerahkan hari-hari Mas NS dan isteri. Hastasurya, selain merupakan akronim dari sang penulis dan pendampingnya, juga bermakna ‘tangan sang matahari’. Nama indah dari sang penafsir keindahan.
Aktivitasnya di Dunia Sastra
Dalam satu percakapan ringan di tahun 2005 saya tanyakan pada NS tentang sastrawan idolanya. Dia menyebut nama Hamsad Rangkuti. Selama di Malang, tidak saya temukan karya Hamsad kecuali hanya beberapa baris tentang biografinya. Selain itu, saya juga jarang ke internet. Baru di Jakarta saya temukan buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot (Penerbit KOMPAS).
Saya tidak tahu bagian mana yang disuka NS dari Hamsad. Mungkin pada fantasinya yang liar dan nakal seperti tampak dalam cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”. Entahlah, tapi ketika saya membaca cerpen Hamsad tersebut, terasa sekali betapa imaji Hamsad dengan bebas mengalir melampaui batas yang pernah saya punyai. Mungkin begitu juga bagi NS. Membaca karya Hamsad, sayapun jatuh cinta pada sastrawan bohemian ini. Sebuah acara di The Habibie Center memberi saya kesempatan bertatap muka langsung dengannya.
Dalam pengantar buku tersebut Hamsad bercerita tentang bagaimana dia harus berjuang sebagai anak kampung untuk bisa berkiprah di dunia sastra nasional, yang waktu itu masih di bawah pengaruh sang Paus Sastra, HB Jassin. Cerpen karya masa kecilnya, yang kemudian menjadikannya sebagai bahan pembicaraan orang sekampung –karena tembus pada majalah sastra asuhan HB Jassin– adalah sebuah cerpen yang bercerita tentang anak juragan kaya di sebuah desa yang wafat karena luka akibat sunnatan. Anak kecil itu wafat dalam balutan perban pada alat kelaminnya serta balutan shalawat orang-orang sekelilingnya.
Inilah dua alasan yang menurut saya mengapa NS mengidolakan Hamsad Rangkuti; imajinya yang bebas dan liar menembus tradisi, serta latar belakang masa kecil yang sama-sama dari kampung, –NS dilahirkan dan dibesarkan di Pulomerak, Serang, Banten– walaupun secara jujur harus diakui bahwa NS bernasib jauh lebih baik dari Hamsad.
Diluar kesibukannya mengurus keluarga, mengajar mahasiswa dan menulis karya sastra, NS menyempatkan waktu untuk mengelola sebuah website khusus para pencinta seni dan sastra, namanya www.fordisastra.com. Fordisastra adalah kependekan dari forum studi seni dan sastra. Beliau adalah kreator dan administrator situs tersebut. Sebuah situs untuk para sastrawan ‘pinggiran’ yang ingin mencurahkan karya kreatifnya. Ketika awal tinggal di Jakarta, pernah sekali dalam sebuah chat YM beliau meminta saya untuk ikut aktif di dalamnya, baik untuk mengikuti perkembangan sastrawan muda non-mainstream, maupun untuk posting karya puisi dan cerpen. Saya mendaftarkan diri, namun sayang sekali saya sudah lupa username dan password saya. Walaupun begitu, saya selalu sempatkan untuk melihat situs tersebut sesekali dalam sebulan.
Pembantu Dekan III FE UB 2009 – 2013
Di jenjang struktur Fakultas Ekonomi Unibraw, khususnya Jurusan Manajemen, NS memulai karirnya sebagai Sekretaris Jurusan Manajemen FE Unibraw. Perjumpaan terakhir saya dengan NS adalah ketika FE UB menyelenggarakan temu alumni pada bulan Juli 2008 lalu. Saya sempat berkunjung ke ruang kerjanya di gedung PPA lama lantai 2, menyerahkan sebuah buku kumpulan puisi Zawawi Imron “Berlayar di Pamor Badik”, titipan dari Andi Makmur Makka (mantan Pimred REPUBLIKA, sastrawan di kantor saya). Di ruang itu NS bersama dengan beberapa dosen muda lainnya seperti Mas Rofiq dan Mas Bobby, dibantu oleh asisten muda multi talenta (Lukman dan Dimas).
Hari Kamis, 23 Juli 2009 lalu mungkin menjadi salah satu hari yang paling bersejarah bagi NS. Beliau dipercaya menjadi Pembantu Dekan III yang membidangi kemahasiswaan untuk periode 2009-2013. Ketika mendapatkan SMS tersebut dari Yusuf Risanto tentang tiga PD baru di struktur dekanat FE 2009, dalam hati dan pikiran saya tergambar dengan jelas ejawantah peribahasa the right man on the right job. Sosok NS yang sangat guyub menjadi persona yang kokoh dan fleksibel untuk dijadikan tempat berkonsultasi.
PD III yang dalam urusan kesehariannya bersiggungan dengan mahasiswa, baik secara personal maupun lembaga (BEM, DPM, Himpunan dsb), bukanlah jenis pekerjaan baru dan berat bagi NS, mengingat kebiasaannya dalam berkomunikasi dengan lintas generasi dalam hal sastra. Seperti kata pepatah, “hobi melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan sifat, sifat melembaga dalam disiplin, dan disiplin menjadi kunci sukses sebuah pekerjaan”, maka pekerjaan sebagai PD III saya yakin akan sukses dijalankan NS. Modal dasar yang besar di masa lalu dan kesehariannyalah yang akan mempermudah karir NS membantu Pak Gugus Irianto mengelola FE UB ke depan bersama Mas Erani dan Pak Didit.
Sembari mengutip puisinya Telah Dialamatkan Padamu dalam antologi dengan judul yang sama, saya ingin mengucapkan selamat kepada kakanda Nanang Suryadi, yang bagi saya pribadi, lebih dari sekedar kakanda dan guru. Jabatan Nanang Suryadi sebagai Pembantu Dekan III FE UB 2009–2013 sejatinya adalah ‘surat azali’ yang telah dituliskan ‘sang sutradara’ di lauh al-mahfudz. Telah dialamatkan pada ‘sang manajer para seniman pinggiran’, dan telah sampai di sebuah ruang sidang di kampus ekonomi Unibraw pada detik itu. Detik ketika semua mata menjadi saksi sebuah takdir yang telah pasti.
"Telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam pada pelupuk, tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran
ke mana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas terselip: aku merindukanmu
ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin diledakan di dadaku, ke dalam otakku
telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!"
Jakarta, 27 Juli 2009
dari berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)